Selasa, 02 November 2021 18:35

Kisah Anak Penjual Ikan yang Harumkan Nama Sulsel pada Kompetisi Sains Tingkat Nasional

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Kisah Anak Penjual Ikan yang Harumkan Nama Sulsel pada Kompetisi Sains Tingkat Nasional

Orang tuanya sehari-hari berjualan ikan dan tinggal di rumah kontrakan yang amat sederhana. Amru telah memberi rasa bangga pada Provinsi Sulsel dengan menyabet prestasi pada kompetisi sains tingkat nasional.

RAKYATKU.COM -- Pernah lihat video bocah yang ikut lomba tarik tambang? Sudah nyaris kalah. Karena kegigihannya, kemenangan yang kelihatan mustahil, berhasil direngkuh.

Kisah kali ini bukan lomba tarik tambang. Lebih berkelas; kompetisi sains madrasah tingkat nasional. Cerita perjuangan salah satu pemenangnya memiliki kemiripan dengan kisah bocah di atas. Ada kegigihan dan juga campur tangan Tuhan.

Amrullah Nur Robby kini dielu-elukan di sekolahnya. Murid kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Al Bashirah, Manggala, Makassar ini bikin bangga. Tak hanya keluarga, sekolah, dan teman-temannya.

Amru, sapaan akrabnya, baru saja mengharumkan nama Provinsi Sulawesi Selatan di tingkat nasional. Putra ketiga dari pasangan Mukhlasin dan Siti Khotimah ini meraih medali perak pada kompetisi sains madrasah tingkat nasional.

Bocah penurut ini melewati perjuangan panjang. Amru yang cukup menonjol dalam pelajaran matematika awalnya mengikuti les di sekolah. Pihak sekolah menawarkan murid kelas 4 hingga kelas 6 untuk ikut les matematika.

 

"Seiring berjalannya waktu, ada pengumuman tentang lomba KSM (Kompetisi Sains Madrasah) matematika. Guru les matematikanya dalam hal ini Ustaz Ashabul Kahfi menyeleksi anak-anak yang bisa ikut," jelas Andi Asdar, kepala MI Al Bashirah.

"Kriterianya, pintar dan mempunyai jiwa lomba. Ustaz Ashabul Kahfi mempercayakan Amru untuk ikut lomba mewakili sekolah," lanjut Andi Asdar kepada Rakyatku.com.

Sponsored by MGID

Hasilnya tidak mengecewakan. Pada tingkat Kota Makassar, Amru sukses menjadi juara 3. Peringkat itu membuatnya berhak ikut kompetisi pada jenjang lebih tinggi, tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Peringkat ketiga tingkat Kota Makassar melecut motivasi Amru dan pembimbing untuk bersiap lebih serius sebelum tampil di kompetisi tingkat provinsi. Harapannya bisa meraih prestasi lebih baik. 

Perjuangan itu tak sia-sia. Hasilnya luar biasa. Dari juara 3 tingkat Kota Makassar, Amru mengejutkan dengan tampil sebagai juara 1 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Sampai di sini saja sudah bikin bangga. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Maklum, lawannya dari 23 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Perjuangan belum selesai. Tantangan lebih menarik di depan mata. Sebagai juara provinsi, bocah asal Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar ini berhak mewakili Sulsel ke kompetisi tingkat nasional.

Lagi-lagi hasilnya cukup mengejutkan. Mata Mukhlasin dan Siti Khotimah akhirnya dibuat berkaca-kaca. Haru biru. Si bungsu dinyatakan meraih medali perak tingkat nasional. Benar-benar bikin bangga.

Atas prestasi itu, Amru mendapat trofi dan bingkisan yang dikemas dalam kardus. Sebagai peserta kompetisi sains, dia juga mendapat uang saku Rp420 ribu dari penyelenggara.

Hasil ini melengkapi prestasi putra-putra Sulawesi Selatan di PON XX Papua. Pada event olahraga empat tahunan itu, atlet Sulsel meraih 11 medali emas, 13 medali perak, dan 13 medali perunggu.

Para peraih medali di PON Papua bertabur bonus. Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman menjanjikan bonus uang tunai Rp200 juta bagi atlet peraih medali emas, Rp150 juta bagi peraih medali perak, dan Rp100 juta bagi peraih medali perunggu.

Bonus itu sudah diserahkan secara simbolis bulan lalu. Pencairannya akan dilakukan awal tahun depan. Anggarannya dimasukkan dalam APBD 2022.

Bagaimana dengan Amru? Juga dapat bonus. Yayasan Rabbani Manggala, tempat MI Al Bashirah bernaung, turut bangga atas prestasi itu.

Sebagai bentuk apresiasi, selain memberikan piagam penghargaan, Ketua Yayasan Rabbani, Anis Abdurrahman SH membebaskan seluruh biaya selama Amru bersekolah di MI Al Bashirah.

Menangis Tak Salat Subuh di Masjid

Siapa Amru sebenarnya? Kesehariannya tidak jauh beda dengan bocah seusianya. Tak seluruh waktunya digunakan untuk belajar. Tetap ada waktu untuk bermain, mengaji, dan menghafal Al-Qur'an.

Ilmu matematika sepenuhnya diperoleh dari sekolah dan belajar sendiri di rumah. Kedua orang tuanya hanya tamatan SLTA. Hanya mengerti matematika sederhana.

"Kalau di rumah, belajarnya biasanya hanya beberapa menit. Biasanya kerja tugas yang diberikan guru dari sekolah. Selebihnya dia banyak di masjid," tutur Ummu Nabila, sapaan akrab Siti Khotimah, ibunda Amru.

Ummu Nabila menyebut, prestasi ini tak lepas dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Putra bungsunya ini memang punya sedikit keistimewaan. Anaknya penurut dan suka membantu orang tua.

Sepulang sekolah, aktivitasnya banyak dihabiskan di Masjid Ulil Amri, tak jauh dari rumah kontrakannya. Masjid ini berada di kompleks Bukit Graha Praja Manggala. Perumahan pegawai Pemprov Sulsel di Kecamatan Manggala, Makassar. Persis di perbatasan Makassar dan Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros.

Di sana dia bermain di halaman masjid yang lapang. Juga mengaji, menambah hafalan Al-Qur'an, dan muraja'ah atau mengulang-ulang hafalan.

Salat lima waktu selalu berjemaah. Amru selalu bangun sebelum subuh agar bisa salat di masjid. Pernah suatu ketika, dia telat bangun sehingga ketinggalan salat subuh berjemaah di masjid.

"Dia marah dan menangis karena tidak dibangunkan untuk salat subuh di masjid," kata Ummu Nabila.

Pada sore hari sepulang sekolah atau pada hari-hari libur, Amru sering dapat tugas khusus. Jadi kurir. Dia bertugas mengantar pesanan ikan di kompleks perumahan tersebut.

Kedua orang tuanya hidup dari berjualan ikan dan jamu. Selain bisa dibeli secara offline di rumahnya, ikan juga ditawarkan secara online ke grup-grup WhatsApp. Usahanya diberi nama "Online Ikan Laut Ummu Nabila."

Sponsored by advertnative
 
#Amrullah Nur Robby #MI Al Bashirah #Kompetisi Sains Madrasah