Senin, 26 Juli 2021 11:20

Berkat Teknologi Baru, Pembunuhan Gadis yang Mandek 30 Tahun Akhirnya Terpecahkan

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Stephanie Isaacson. (Foto: Police handover)
Stephanie Isaacson. (Foto: Police handover)

Kasus pembunuhan Stephanie Isaacson menemui jalan buntu sampai teknologi baru memungkinkan untuk melakukan tes pada sedikit DNA yang ditinggalkan si pelaku--setara dengan hanya 15 sel manusia.

RAKYATKU.COM - Pelaku pembunuhan" href="https://rakyatku.com/tag/pembunuhan">pembunuhan gadis berusia 14 tahun di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 1989 ditemukan berkat sejumlah kecil DNA" href="https://rakyatku.com/tag/dna">sampel DNA.

Para pakar menyebutnya sebagai jumlah DNA paling sedikit yang pernah digunakan untuk memecahkan suatu kasus.

Kasus pembunuhan Stephanie Isaacson menemui jalan buntu sampai teknologi baru memungkinkan untuk melakukan tes pada sedikit DNA yang ditinggalkan si pelaku--setara dengan hanya 15 sel manusia.

Baca Juga : Pembunuhan di Masjid Luwu, Polisi Ungkap Pelaku Hantam Korban Pakai Batu Berkali-kali

Polisi mengatakan pada Rabu (21/7/2021) bahwa mereka telah mengidentifikasi tersangka dengan menggunakan sekuensing genom dan data genealogi publik.

Terduga pelaku pembunuhan Stephanie Isaacson meninggal pada 1995.

 

"Saya senang mereka menemukan orang yang membunuh putri saya," kata ibu Stephanie dalam pernyataan yang dibacakan di hadapan wartawan dalam konferensi pers.

Baca Juga : Kuli Bangunan Pembunuh Istri Muda di Parepare Menyerahkan Diri

"Saya tidak pernah menyangka bahwa kasus ini akan bisa diselesaikan."

Sponsored by MGID

Tiga puluh dua tahun yang lalu, tubuh Stephanie ditemukan di dekat rute yang biasanya ia lalui dalam perjalanan ke sekolah di Las Vegas, Nevada. Gadis itu diserang dan dicekik sampai mati.

Tahun ini, polisi dapat membuka kasus itu lagi setelah adanya donasi dari seorang penduduk setempat. Mereka menyerahkan sampel DNA yang masih utuh ke Othram, laboratorium sekuensing genom di Texas yang berspesialisasi dalam kasus-kasus "dingin".

Baca Juga : Adu Mulut di Lahan Lumput Laut, Lelaki di Jeneponto Tikam Ipar Berkali-kali hingga Tewas

Perangkat tes DNA biasa untuk konsumen mengumpulkan sekitar 750 hingga 1000 nanogram DNA dalam satu sampel. Sampel itu lalu diunggah ke situs web publik yang berspesialisasi dalam penelusuran leluhur atau pemeriksaan kesehatan.

Namun, DNA tidak selalu ditemukan dalam jumlah besar di TKP. Dalam kasus ini, hanya 0,12 nanogram--setara dengan 15 sel--yang tersedia untuk tes.

Dengan menggunakan basis data jalur keturunan, para peneliti berhasil mengidentifikasi sepupu si pelaku. Akhirnya, mereka mencocokkan DNA pelaku dengan Darren Roy Marchand.

Baca Juga : Korban Penikaman di Panaikang Ternyata Tentara Desersi, Ini Penjelasan Kaurpenpasun Lanud Hasanuddin

DNA Marchand dari kasus pembunuhan sebelumnya pada 1986 masih ada dalam catatan dan digunakan untuk mengonfirmasi kecocokan tersebut.

Ia tak pernah dihukum dan meninggal karena bunuh diri pada 1995.

Teknologi genomik yang digunakan untuk memecahkan kasus ini juga digunakan untuk menangkap pelaku pembunuhan yang disebut "Golden State Killer" pada 2018. Si pelaku, yang telah melakukan sedikitnya 12 pembunuhan dan puluhan pemerkosaan serta perampokan di California, lolos dari tangkapan polisi selama 40 tahun.

Baca Juga : Pelaku Diserahkan Keluarga, Motif Pembunuhan di Daya Terungkap

"Ini tonggak pencapaian besar," kata kepala eksekutif Othram David Mittleman kepada BBC.

"Ketika Anda dapat mengakses informasi dari jumlah DNA sekecil itu, ini membuka kesempatan bagi begitu banyak kasus lain yang telah dianggap buntu dan tidak terpecahkan."

Perusahaan tersebut saat ini mengerjakan berbagai kasus dari masa lalu, sejak tahun 1881.

Baca Juga : Pelaku Diserahkan Keluarga, Motif Pembunuhan di Daya Terungkap

Sumber: BBC Indonesia

#Stephanie Isaacson #pembunuhan #DNA