Selasa, 23 Februari 2021 10:14

IDI Makassar Tolak Rencana Dinas Pendidikan Sulsel Buka Sekolah Tatap Muka, Ini Pertimbangannya

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Dr Siswanto Wahab
Dr Siswanto Wahab

IDI Makassar mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab jika belajar tatap muka tetap dilaksanakan dan menyebabkan siswa terkena Covid-19.

RAKYATKU.COM - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar dengan tegas mengatakan menolak rencana sekolah tatap muka secara bertahap di Sulsel.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel, Prof Muhammad Jufri mempertimbangkan pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap. Dikhususkan bagi pelajar kelas XII jenjang SMA/SMK.

Ketua IDI Kota Makassar, dr Siswanto Wahab mengatakan, saat ini positive rate 38,16 di Indonesia. Artinya dari 10 orang yang uji swab PCR, empat orang positif. Standar WHO hanya 5 persen.

Baca Juga : Sudah Lebih 3,3 Juta Orang Meninggal Akibat COVID-19

Selain itu angka positif Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan masih masuk posisi 5-7 tertinggi di Indonesia. Makassar sebagai epicentrum-nya.

"Kebijakan tatap muka baik secara bertahap atau sekaligus perlu diingat ada tiga poin penting untuk masa depan anak yakni hak anak hidup, hak anak sehat, dan hak anak mendapatkan pendidikan," katanya, Selasa (23/2/2021).

 

Dikatakan, guru saja hingga saat ini belum divaksin, apalagi siswa. Pihaknya pun mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab jika belajar tatap muka tetap dilaksanakan dan menyebabkan siswa terkena Covid-19.

Baca Juga : Seorang Muslim di India Jual Mobil untuk Beli Oksigen demi Selamatkan Pasien Covid-19

"Anak-anak bisa terpapar di sekolah. Bisa kena saat pergi atau pulang ke sekolah. Setelah itu membawa virus ke keluarga. Dampaknya terjadi cluster sekolah serta meninggi lagi cluster keluarga," tambahnya.

IDI Kota Makassar menyebut mendukung kebijakan yang dikeluarkan akhir tahun 2020 oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kebijakan tersebut menegaskan perlu ada hal yang diperhatikan dan dilakukan yang mencakup dukungan untuk kesehatan dan kesejahteraan anak yakni penundaan pembukaan sekolah untuk kegiatan pembelajaran tatap muka sampai guru dan peserta didik divaksin Covid-19. Hal ini disebut memiliki andil sangat besar untuk menurunkan transmisi.

Baca Juga : Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 3.448 Orang di Hari Lebaran

Disebutkan, seluruh warga sekolah termasuk guru dan staf sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan Covid-19.

Idealnya untuk Sulawesi selatan 1.200-1.300 setiap hari pemeriksaan swab/PCR di luar pemeriksaan penderita positif Covid-19.

"Setelah itu kita masuk kepada pendidikan disiplin hidup bersih sehat, penerapan protokol kesehatan dari rumah hingga ke sekolah, termasuk mempersiapkan kebutuhan penunjang kesehatan anak seperti masker, bekal makanan dan air minum, pembersih tangan, hingga rencana transportasi harus steril. Intinya IDI Makassar tolak kebijakan buka sekolah saat Covid-19 masih tinggi di Sulsel," jelasnya.

Penulis : Syukur
#idi makassar #Covid-19