Minggu, 21 Februari 2021 20:02

Mitra Hijau Asia Investasi Rp200 Miliar Bangun Pabrik Pengelolaan Limbah B3 di Barru

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Mitra Hijau Asia Investasi Rp200 Miliar Bangun Pabrik Pengelolaan Limbah B3 di Barru

PT Mitra Hijau Asia telah berkontribusi selama tujuh tahun dengan komitmen kuat membantu pemerintah menyelamatkan lingkungan dengan motto “protect the environment”.

RAKYATKU.COM,BARRU - PT Mitra Hijau Asia menggelontorkan investasi kurang lebih Rp200 miliar untuk pembangunan tempat pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Kabupaten Barru.

Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 42 hektare ini akan menjadi yang pertama di Indonesia timur. Keberadaan pabrik ini akan sangat berkontribusi terhadap swasta dalam hal ini industri dan juga pemerintah.

Untuk diketahui, salah satu masalah besar saat ini adalah tingginya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk penanganan limbah industri atau limbah medis rumah sakit.

Baca Juga : 

Biaya tersebut terutama mencakup biaya transportasi dimana semua limbah harus dikirim dan dimusnahkan di Jawa.

 

“Dengan adanya tempat pengelolaan limbah B3 yang dibangun PT Mitra Hijau Asia ini, industri dan rumah sakit di kawasan timur khususnya akan lebih efisien," tutur Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 KLHK.

"Ini adalah proyek penting yang sangat membantu pemerintah dalam penanganan limbah B3 yang selama ini masih menjadi beban industri dan rumah sakit,” tambahnya.

 

Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, investasi PT Mitra Hijau Asia sebagai sebuah investasi langka. Karena, di antara 12 ribu industri yang menyesaki Indonesia, hanya 20 Industri saja yang bergerak pada bidang pengelolaan limbah.

“Saya percaya perusahaan ini akan bergerak secara profesional dan beroperasi sesuai arahan dan pengawasan pemerintah,” kata Vivien.

Direktur utama PT Mitra Hijau Asia, Riory Rivandy Ilyas mengatakan, PT Mitra Hijau Asia telah berkontribusi selama tujuh tahun dengan komitmen kuat membantu pemerintah menyelamatkan lingkungan dengan motto “protect the environment”.

“Total investasi pada pembangunan ini kurang lebih Rp200 miliar dan dibangun di atas lahan seluas 42 hektare,” kata Riory.

Riory menambahkan, PT Mitra Hijau Asia didirikan pada tahun 2014 atas dorongan Ibu Dirjen Rosa Vivien Ratnawati.

Semangatnya adalah bahwa perlu membantu pemerintah dengan membangun pengelolaan limbah B3, karena seharusnya limbah B3 dari Sulawesi Selatan tidak di kirim ke Pulau Jawa untuk dimusnahkan.

“Sejak itu kami mencanangkan pembangunan pengelolan limbah B3 dan hari ini dapat terwujud. Sebagai tahap pertama yaitu pembangunan insenerator sebanyak 2 unit dengan kapasitas 12 ton/hari untuk limbah medis dan limbah industri serta pengumpulan 193 jenis limbah B3 pada luas lahan 2,3 ha,” tambahnya.

Untuk tahap kedua, PT Mitra Hijau Asia akan mengembangkan pemanfaatan limbah B3 menjadi bata merah dan bata putih serta pengelolaan oli bekas.

“Perlu kami laporkan bahwa bisnis kami selama ini adalah pengangkutan/transportasi limbah B3 sejak tahun 2014, dengan jumah armada truk dan mobil box sebanyak 62 unit dengan kantor cabang di 16 propinsi masing-masing di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, NTT serta Surabaya dan Jakarta,” jelas Riory.

Riory menegaskan bahwa yang paling sulit sejauh ini adalah pengangkutan dari pulau-pulau terluar seperti Pulau Saumlaki yang berbatasan dengan Australia dan Pulau Wetar yang berbatasan dengan Timor Timur.

Dimana trasporter bahkan perlu mencarter kapal khusus mengangkut truk paling sedikit 2 hari baru ke Ambon, untuk selanjutnya dari Ambon ke Makassar, sebelum akhirnya ke Surabaya atau Jakarta. Sehingga seluruhnya dibutuhkan waktu 14 hari.

“Sebenarnya lebih dekat ke General Santos Filipina di banding Ke Manado yang bukan hanya sulit dijangkau juga menunggu cuaca bagus serta kedatangan kapal, pernah sampai 21 hari dibutuhkan untuk mengangkut satu kontainer. Hal yang sama juga dengan Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia atau bahkan kabupaten Sekadau Kalimantan Barat yang jaraknya hanya 200 meter dari Malaysia,” tambah Rio

Demikian halnya dengan Pulau Tahuna yang berbatasan dengan Filipina, ditempuh dengan kapal selama 2 hari dari Manado. “Dengan adanya tempat pengelolaan limbah B3 di Barru, tentu akan berdampak terhadap efisiensi industri dan rumah sakit khususnya di Kawasan Timur Indonesia,” pungkasnya.

Selain pemusnahan limbah B3, Perusahaan ini juga akan mengelola limbah industri spesifik yang akan menghasilkan produk seperti batako dan batu merah. Produk hasil olahan ini nantinya akan dikontribusikan pada masyarakat di Barru dan sekitarnya sebagai bentuk CSR perusahaan.

Penulis : Achmad Afandy
#barru #PT Mitra Hijau Asia