Kamis, 18 Februari 2021 10:15

Konon Katanya, Pondasi Dasar Bendungan di Bali Ini Terbuat dari Jasad Manusia

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Foto: Ist
Foto: Ist

Meski telah disulap menjadi tempat yang ramah untuk masyarakat, namun tetap saja keangkeran dari Dam Oongan masih terdengar.

RAKYATKU.COM - Letaknya di Jalan Noja Saraswati, Kecamatan Denpasar Utara. Sekarang ini, wilayah sekitar Dam atau bendungan Oongan ini, telah disulap oleh pemerintah setempat menjadi area public dengan nama Taman Lila Ulangun yang diresmikan langsung oleh Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra pada Senin, 16 Desember 2019 lalu.

Salah satu mitos yang diyakini oleh masyarakat tentang Dam Oongan ini, adalah mitos tentang pondasi dasar dam yang tersusun atas jasad manusia. Keyakinan masyarakat ini didasarkan pada folklore yang beredar tentang pengorbanan sepasang suami-istri pada zaman dahulu kala.

Jadi, pada waktu itu ada seorang raja dari Kerajaan Pemecutan yang bernama Cokorda Pemecutan. Sang raja memiliki seorang patih yang amat setia bernama Ki Sawunggaling. Suatu waktu, persawahan di wilayah Kerajaan Kesiman mengalami kekeringan sehingga membuat rakyat harus mengungsi ke Kerajaan Badung.

Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah saluran irigasi dengan cara membendung aliran air sungai. Meski demikian, entah kenapa wilayah persawahan Kesiman tetap saja dilanda kekeringan.

Ki Sawunggaling lalu melakukan semedi di daerah Dam Oongan. Di sana ia mendapat petunjuk dari Sang Hyang Widhi bahwa pihak kerajaan harus membangun sebuah bendungan dengan pondasi dasarnya adalah manusia.

Setelah mendapat petunjuk, Ki Sawunggaling tidak lantas menemui sang raja. Ia pun merenungi petunjuk dari Sang Hyang Widhi. Setelah dipikirkan lebih jauh, akhirnya Ki Sawunggaling lebih memilih untuk mengorbankan diri sebagai wujud pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sang istri yang setia pun secara sukarela ikut mengorbankan dirinya bersama sang suami.

Semenjak pengorbanan yang dilakukan oleh Ki Sawunggaling beserta sang istri, rakyat Kesiman akhirnya tidak kelaparan lagi karena air mulai masuk ke persawahan mereka.

Sponsored by MGID

Dari situlah bendungan ini dinamakan sebagai Dam Oongan yang tidak lain bermakna ‘dam manusia’.

Ketika memasuki masa penjajahan Belanda, kisah tentang pengorbanan diri dari Ki Sawunggaling dimanfaatkan secara licik oleh kompeni. Penjajah Belanda lantas menyebarkan isu kalau bendungan akan semakin kokoh jika pondasinya dari tubuh manusia selayaknya yang dilakukan oleh Ki Sawunggaling beserta sang istri.

Padahal Belanda hanya ingin menghemat lahan pemakaman. Mendengar isu tersebut, tentu saja rakyat tidak mau dan melakukan perlawanan. Namun, karena kalah dari segala sisi, rakyat setempat pun menerima nasib tragis. Kompeni akhirnya membantai rakyat dan menggunakan tubuh mereka sebagai pondasi dasar bendungan.

Salah seorang anak indigo yang bernama Bayu Dewey menceritakan kalau jembatan Dam Oongan dijaga oleh pasukan manusia berwajah monyet. Pasukan ini berjaga di tempat tersebut lantaran Dam Oongan termasuk ke dalam salah satu tempat suci yang sebagai peribadatan umat Hindu.

Selain di jembatan, di Pura Taman yang berada di luar area Dam Oongan pun memiliki kisah angkernya. Menurut Bayu, area ini merupakan gerbang menuju kerajaan gaib yang mana patokannya adalah pohon besar yang berada di dekat Pura Taman. Kerajaan gaib ini sendiri katanya sudah ada sebelum munculnya kerajaan-kerajaan lain di wilayah Bali.

Kembali pada masa patih Ki Sawunggaling, menurut penuturan Bayu, pada masa tersebut masyarakat yang ada di sekitar bendungan kerap melakukan perusakan alam, pengeksploitasian lingkungan, serta kerap melakukan perbuatan yang tidak terpuji.

Pimpinan kerajaan gaib pun marah sehingga membuat aliran sungai tidak berjalan lancar agar rakyat kelaparan. Oleh sebab itu, maka muncullah petunjuk untuk mengorbankan diri sebagai bayaran atas perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kala itu.

sumber: keepo.me

#bendungan