Sabtu, 16 Januari 2021 19:08

Cerita Korban Gempa Sulbar, Evakuasi Balitanya yang Luka Berat Hingga ke Parepare

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Foto: Hasrul Nawir.
Foto: Hasrul Nawir.

Meski dirinya dan keluarga selamat, anak semata wayangnya Erfandi (3) harus menjalani perawatan intensif di Ruang ICU RSU Andi Makkasau, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

RAKYATKU.COM, PAREPARE - Sitti Fatimah (35), warga warga Tapalang, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, tidak henti-hentinya mengucap syukur.

Pasalnya dia, suami, dan bocah laki-lakinya selamat dari bencana gempa bumi bermagnitudo 6,2 pada Jumat (15/1/2021) dini hari kemarin.

Meski dirinya dan keluarga selamat, anak semata wayangnya Erfandi (3) harus menjalani perawatan intensif di Ruang ICU RSU Andi Makkasau, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Baca Juga : Rusak Akibat Gempa, Masjid Babul Jannah Majene Kembali Dibangun

Ditemui pada Sabtu (16/1/2021) di ruang ICU RSU Andi Makkasau, Fatimah bercerita bagaimana dia dan keluarga lolos dari maut.

Saat kejadian dia, Fatimah baru saja hendak memejamkan mata saat sang buah hati sudah terlelap.

 

“Waktu kejadian yang parah ini malam setengah tiga saya kasi tidur(Erfandi) di kamar, tiba-tiba bengunan rumah langsung ambruk,” katanya.

Baca Juga : Dompet Dhuafa Kembali Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa Sulbar

Naluri keibuan Fatimah pun langsung muncul kala itu. Badannya dijadikan tameng untuk melindungi putra semata wayangnya tersebut.

Sponsored by MGID

“Sempat kulndungi badannya, tapi kepalanya kena (reruntuhan). Kalau badanya aman karena kena badanku. Badan memar semua, tapi yang penting anak selamat,” terangnya.

Dalam keadaan panik dan sempoyongan, dia pun langsung lari keluar rumah menggendong anaknya.

Baca Juga : Asmo Sulsel dan Komunitas Motor Honda Salurkan Donasi kepada Korban Gempa Sulbar

“Saat itu anak saya dalam keadaan tidak sadar selama lima menit, langsung dikasi napas buatan sama ayahnya, tidak lama kemudian langsung sadar tapi muntah-muntah,” bebernya.

Fatimah dan suaminya dalam gelap meminta pertolongan, tetapi warga sekitar juga sudah menyelamatkan diri lari ke tempat yang lebih tinggi karena takut akan ada tsunami.

“Akhirnya saya dan suami berjalan kaki sambil menggendong anak ke jalan poros mencari pertolongan, sampai pagi baru ketemu tim medis,” kenangnya.

Baca Juga : Gandeng Ije Squad Makassar, Partai Islam Se-Malaysia Ikut Bantu Korban Gempa Sulbar

Derita Fatimah tidak berhenti sampi di situ. Keterbatasan obat dan perawatan medis lainnya menjadi kendala.

"Hanya ada cairan infus saja, sehingga saya berinisiatif ke Kota Mamuju. Pas dapat kendaraan menuju Mamuju, di tengah jalan terhambat karena akses jalan masih tertutup,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat Fatimah nyaris putus asa. Dia tetap memutar otak, di benaknya keselamatan sang buah hati adalah hal utama.

Baca Juga : Difasilitasi Wagub Sulsel, Bayi Tanpa Anus Pengungsi Gempa Sulbar Akhirnya Dirujuk di RSWS

“Dalam keadaan sudah putus asa, suami saya menemukan ada mobil relawan yang hendak balik ke Makassar, saya langsung berpikir ikut saja, yang penting bisa keluar dulu dari lokasi bencana. Apakah nanti sampai di Parepare atau Makassar itu urusan belakang,” bebernya.

Hati Fatimah baru merasa tenang setelah sampai di Parepare dan putranya langsung mendapatkan penanganan medis.

“Sampai di Parepare tadi pagi di RS Sumantri dan dirujuk ke RSU Andi Makasau. Alhamdulillah pelayanan di RS ini sangat baik, kami terlayani dengan baik,” pujinya.

Baca Juga : Difasilitasi Wagub Sulsel, Bayi Tanpa Anus Pengungsi Gempa Sulbar Akhirnya Dirujuk di RSWS

Firman, Kasubid Asuhan dan Bina Keperawatan RSU Andi Makkasau mengaku saat ini pihaknya tengah merawat dua korban bencana gempa Sulbar.

“Ada dua orang yang sementara kami rawat dari Kecamatan Simboro, Mamuju yang dievakuasi ke sini,” jelasnya.

Sponsored by advertnative
 
Penulis : Hasrul Nawir
#gempa sulbar #gempa majene