Sabtu, 19 Desember 2020 20:02

Pertama Sepanjang Sejarah, AI Jadi Copilot Pesawat Militer AS

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi.
Ilustrasi.

USAF mengonfirmasi bahwa algoritma AI digunakan untuk mengontrol sensor dan sistem navigasi pesawat pengintai U-2 Dragon Lady selama penerbangan pelatihan di Pangkalan Angkatan Udara Beale di California.

RAKYATKU.COM - Sebuah lompatan besar di dunia kedirgantaraan dilakukan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), USAF.

Pertama kalinya sepanjang sejarah, USAF menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai Copilot untuk pesawat militer mereka.

USAF mengungkapkan, mereka melakukan hal itu di sebuah pesawat militer selama latihan penerbangan pada pekan ini.

Baca Juga : Tunjangan Pengangguran Tinggi, Pekerja di AS Enggan Bekerja Lagi

Untuk diketahui, AI mengacu pada kemampuan mesin untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti belajar dari pengalaman, membuat prediksi, mengenali pola, dan fungsi pemecahan masalah lainnya.

Dalam rilisnya, USAF mengonfirmasi bahwa algoritma AI digunakan untuk mengontrol sensor dan sistem navigasi pesawat pengintai U-2 Dragon Lady selama penerbangan pelatihan di Pangkalan Angkatan Udara Beale di California.

 

Pesawat yang digunakan selama tes ditugaskan ke Sayap Pengintai ke-9 di pangkalan udara itu. Pesawat tersebut bermesin jet tunggal, pesawat ketinggian tinggi yang menyediakan pengumpulan data intelijen di segala cuaca.

Baca Juga : Dokumen Setebal 900 Halaman Bocor, AS yang Danai Penelitian Virus Corona di Lab Wuhan

“Penerbangan ini menandai lompatan besar bagi pertahanan nasional karena kecerdasan buatan terbang di atas pesawat militer untuk pertama kalinya dalam sejarah Departemen Pertahanan. Algoritma AI, yang dikembangkan oleh Laboratorium Federal Komando Tempur Udara U-2, melatih AI untuk melaksanakan tugas-tugas khusus dalam penerbangan yang seharusnya dilakukan oleh pilot," tulis USAF dalam rilisnya.

Sponsored by MGID

"Penerbangan itu adalah bagian dari skenario yang dibangun secara khusus yang mengadu AI dengan algoritma komputer dinamis lainnya untuk membuktikan kemampuan teknologi baru, dan kemampuannya untuk bekerja dalam koordinasi dengan manusia," tambah rilis tersebut seperti dikutip dari Sputnik, Sabtu (19/12/2020).

Menurut USAF, sistem AI bernama ARTUµ itu digunakan untuk penggunaan sensor dan navigasi taktis. Tanggung jawab utama sistem itu adalah mengidentifikasi peluncur musuh.

Baca Juga : Kisah Pemuda Surabaya Jadi Tentara di AS, padahal Dulu Tak Bisa Bahasa Inggris

Pesawat masih dikemudikan oleh pilot, dan tidak ada senjata yang terlibat. Namun, setelah lepas landas, kontrol sensor ditangani oleh ARTUµ, yang telah mempelajari cara mencapai tujuan sensor dari lebih dari setengah juta iterasi pelatihan
yang disimulasikan komputer.

"Kami tahu bahwa untuk berperang dan menang dalam konflik di masa depan dengan musuh yang sepadan, kami harus memiliki keunggulan digital yang menentukan," kata Kepala Staf Angkatan Udara AS Jenderal Charles Q. Brown Jr. dalam rilisnya.

“AI akan memainkan peran penting dalam mencapai keunggulan itu, jadi saya sangat bangga dengan pencapaian tim. Kami harus mempercepat perubahan dan itu hanya terjadi jika penerbang kami melampaui batas dari apa yang kami pikir mungkin," dia menambahkan.

Baca Juga : Kasus Positif Terus Melonjak, Warga yang Divaksin Kini Dapat Insentif Rp1,4 Juta

Rilis itu memberikan catatan bahwa teknologi AI dirancang agar mudah ditransfer ke sistem lain dan diharapkan dapat mengubah domain udara dan luar angkasa.

"Memadukan keahlian seorang pilot dengan kemampuan pembelajaran mesin, penerbangan bersejarah ini secara langsung menjawab seruan Strategi Pertahanan Nasional untuk berinvestasi dalam sistem otonom," ujar Sekretaris Angkatan Udara Barbara Barrett.

“Inovasi dalam kecerdasan buatan akan mengubah domain udara dan luar angkasa,” katanya.

Sponsored by advertnative
 
#AI #Kecerdasan Buatan #Militer #Amerika Serikat