Jumat, 04 Desember 2020 22:21

DP Ikut Ritual Tolak Bala di Sungai Jeneberang, Ini Nasihat Wagub dan Tokoh Agama

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
DP Ikut Ritual Tolak Bala di Sungai Jeneberang, Ini Nasihat Wagub dan Tokoh Agama

Dalam Islam, umat hanya boleh meminta pertolongan dan kepada Allah subhanahu wata'ala. Tidak ada yang lain yang patut disembah dan dimintai pertolongan selain Allah subhanahu wata'ala bagi seorang muslim.

RAKYATKU.COM - Kehadiran Danny Pomanto dalam ritual tolak bala mendapat perhatian masyarakat. Bagi seorang Muslim, acara itu disebut bisa merusak akidah.

Acara tersebut digelar Gerakan Masyarakat Sanata Dharma Nusantara (Gema Sadhana). Salah satu ritual untuk mendoakan Moh Ramdhan Pomanto agar kuat menghadapi segala fitnah dan bisa memenangkan Pilkada Makassar 2020.

Ketua Gema Sadhana Sulsel, Pinandita Gede Sudarta hadir pada pelepasan bala. Dia memberi kesempatan kepada Danny Pomanto untuk menurunkan sesuatu ke Sungai Jenneberang, Kecamatan Tamalate, Rabu (2/12/2020).

Baca Juga : Sudah Komitmen, Appi-Rahman Lanjutkan Perjuangan Tangani Covid-19 di Kota Makassar

Pada kegiatan itu, komunitas Gema Sadhana bersama sejumlah biksu juga turut mendokan agar Pilkada Makassar 2020 ini berjalan aman dan damai.

Nah, ritual itu mengagetkan sejumlah tokoh agama. Ustaz Azhar Tamanggong dan Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil di antaranya. Keduanya mengingatkan bahwa ritual tolak bala seperti itu tidak sesuai syariat Islam.

 

"Kehadiran Pak DP pada acara doa pelepasan bala di Sungai Jeneberang sangat disayangkan. Entah beliau tahu atau tidak bahwa itu tidak dibenarkan dalam Islam. Yang dilakukannya itu mendekati musyrik," kata Azhar, Jumat malam (4/12/2020).

Baca Juga : Sudah Sempat Crossing, RTK Ungkap Penyebab Appi-Rahman Kalah Atas Danny-Fatma Versi Quick Count

"Tolong jangan hanya karena ingin meraup suara demi Pilwalkot Makassar, tapi malah mengorbankan akidah. Ini berlaku untuk semua paslon, tolong jadilah teladan," sambung Azhar.

Sponsored by MGID

Menurutnya, apapun alasan DP mengikuti doa pelepasan bala itu tidak dibenarkan. Kalau pun mendapatkan undangan dan isi acaranya bertentangan dengan ajaran agama, maka tidak mengapa ditolak dengan baik-baik. Ia yakin pihak pengundang akan memaklumi bila mendapatkan penjelasan komprehensif.

"Entah itu alasannya agar Kota Makassar aman dan nyaman ataupun untuk memenangkan kandidat, ya tidak dibenarkan itu ritual pelepasan bala, tolak bala atau apapun namanya dilakukan dengan ritual di pinggir sungai," ucap dia.

Baca Juga : Beri Selamat Danny-Fatma, Dilan Apresiasi Appi-Rahman dan Imun

Dalam Islam, umat hanya boleh meminta pertolongan dan kepada Allah subhanahu wata'ala. Tidak ada yang lain yang patut disembah dan dimintai pertolongan selain Allah subhanahu wata'ala bagi seorang muslim.

"Mohon maaf bila saya agak keras soal ini, tapi ini harus disuarakan agar tak ada lagi yang keliru dan terjerumus. Doa tolak bala itu ada dalam Islam, tapi caranya jelas. Ingat doa adalah bagian dari ibadah," ujarnya.

Hal senada disampaikan Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil. Dia mengingatkan, dalam perspektif Islam, fondasi yang paling mendasar adalah akidah, yang merupakan pokok-pokok keyakinan seorang muslim.

Baca Juga : Beri Selamat Danny-Fatma Sambil Titip AGAMIS, UQmo Sampaikan Pesan kepada Appi, Deng Ical, dan None

Dalam interaksi pada masyarakat yang majemuk, katanya, seharusnya seorang muslim dapat tetap menjaga akidahnya. Ibarat ikan yang berenang dan hidup di laut tanpa harus asin tergarami.

"Kontestasi politik terkadang mengelus dan bahkan tidak terasa bisa menggerus prinsip-prinsip seseorang bahkan pada ruang yang paling esensial pada dirinya, yaitu keyakinan dan agamanya," kata Ustaz Ikhwan dalam tulisannya.

Setiap kandidat yang beragama muslim, lanjut dia, seyogyanya dan seharusnya bisa tetap luwes berinteraksi tanpa perlu mengorbankan prinsip agama dan akidahnya.

Baca Juga : Adama Menang di Pilkada Makassar Versi Hitung Cepat, LSI Ungkap Peran Fatmawati Rusdi

"Ritual-ritual agama lain seharusnya dihindari dan cukup memberikan ruang kebebasan kepada setiap penganut agama menjalankan kepercayaannya tanpa perlu terlalu jauh ikut dalam ritual tersebut," saran sekretaris MUI Sulsel itu.

"Toleransi yang kita kembangkan seharusnya justru harus berbasis akidah dan tauhid. Doa dalam perspektif Islam adalah ibadah. Ritual doa agama lain tidak boleh kita campuri dan ikut serta di situ," lanjut ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah itu.

Selain ritual tolak bala, Ustaz Ikhwan juga mengingatkan fenomena ucapan salam dalam acara-acara resmi. Biasanya, seorang muslim, setelah mengucapkan "assalamualaikum", dilanjutkan mengucapkan lagi salam-salam agama lain.

Baca Juga : Adama Menang di Pilkada Makassar Versi Hitung Cepat, LSI Ungkap Peran Fatmawati Rusdi

"Hal ini sangat patut untuk dihindari karena tasyabbuh atau ikut-ikutan dan meniru agama lain. Makna salam itu kita tidak tahu pasti dan mungkin bermakna kekufuran dan kesyirikan. Allah subhanahu wata'ala mengingatkan, 'bagimu agamamu, bagiku agamaku'," tutup Ustaz Ikhwan Jalil.

Wagub Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman ikut angkat bicara.
Dia bilang, sebagai seorang muslim, seharusnya bisa memahami bahwa acara tolak bala tidak dibenarkan dalam agama Islam.

"Saya rasa sudah jelas nasihat dan teguran dari banyak ustaz. Beliau juga punya keluarga sering pengajian. Bagi agama lain adalah ritual tapi baginya mengancam akidahnya," ujar Andi Sudirman, Jumat (4/12/2020).

Baca Juga : Adama Menang di Pilkada Makassar Versi Hitung Cepat, LSI Ungkap Peran Fatmawati Rusdi

Sebagai salah satu tokoh yang dicintai masyarakat, harusnya memberikan contoh teladan dan toleransi yang baik. Acara seperti itu, kata dia, seharusnya tidak perlu dilakukan. Bisa digantikan dengan kegiatan yang sesuai syariat Islam.

"Kita memberi nasehat karena mencintainya. Toleransi dilakukan tidak harus menggabung-gabungkan ibadah. Cukup masing-masing memberi jaminan ruang untuk kebebasan beribadah," pungkasnya.

Sponsored by advertnative
 
#Pilkada Makassar