Kamis, 19 November 2020 15:03

Kisah Para Penyintas Melewati Masa-Masa Kritis Covid-19

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Nasruddin AM (kiri) dalam sebuah kesempatan.
Nasruddin AM (kiri) dalam sebuah kesempatan.

Penyintas adalah istilah bagi para survivor di masa pandemi yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan berhasil melaluinya. Pemprov Sulsel menyebutnya "Duta Wisata Covid-19".

RAKYATKU.COM,BARRU - Pelaksana tugas Bupati Barru, Nasruddin Abdul Muttalib salah satu di antara penyintas yang berhasil memenangkan pertarungan melawan Covid-19.

Kala itu, Nasruddin terpapar Covid-19 pasca menyalurkan bantuan ke Masamba. Peristiwanya Juli 2020 lalu. Dia diberitakan mengalami demam.

Setelah beberapa waktu dirawat di salah satu rumah sakit di Makassar, Nasruddin AM sembuh pada awal Agustus dan mulai aktif berkantor.

Baca Juga : 

Penyintas adalah istilah bagi para survivor di masa pandemi yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan berhasil melaluinya. Pemprov Sulsel menyebutnya "Duta Wisata Covid-19".

Mereka pernah mengikuti wisata Covid-19. Sebuah program Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan mengkarantina orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di beberapa hotel di Makassar. Khususnya yang berstatus ODP dan OTG.

Penyintas lainnya adalah tokoh agama Barru, Ustaz Agus. Pasca pulang dari Mesir, dia divonis positif Covid-19 berdasarkan hasil uji swab. Walapun tubuhnya terlihat bugar, menantu dari Anregurutta Faried Wadjedy ini kemudian menjalani wisata Covid-19 di Makassar.

 

Beberapa pekan dikarantina, Ustaz Agus sembuh dari Covid-19. Ia kemudian bisa berkumpul dengan keluarga.

"Jaga imun, tingkatkan iman, insyaallah aman," sebut Ustaz Agus menceritakan kunci kesembuhan dirinya yang diutarakan dalam beberapa komunikasi publiknya saat menjalani wisata Covid-19 di Makassar, kala itu. Tagline iman, imun, dan aman ini akhirnya viral di Barru.

Ada lagi kisah dari jurnalis senior, Latif Siregar. Dia adalah penyintas yang mendapatkan pengalaman selama menjalani perawatan dan pemulihan dari Covid-19. Pengalaman Siregar semacam "Near-death experiences".

“Saya menyadari bahwa saya selama ini punya komorbid hipertensi. Jadi selama Covid, napas saja susah. Saya harus cepat mengambil selang oksigen untuk bisa bernapas,” cerita Siregar dalam sebuah webinar.

Webinar tersebut mengangkat tema “Tantangan Penyintas Beradaptasi dan Lindungi Diri dengan Imunisasi” yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu (18/11/2020).

Kurang lebih sembilan hari Latief Siregar dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.

Jarum suntik dan selang oksigen, jadi menu sehari-harinya. Dalam waktu kurang dari satu pekan, virus corona dengan cepat merusak paru-parunya.

"Paru-paru saya yang awalnya rusak 25 persen, menjadi rusak 75 persen. Akibatnya saya kesulitan untuk bernapas. Berjalan dan turun tangga saja sulit sekali, harus pakai selang oksigen," ceritanya.

Berdasarkan pengalamannya, Siregar mengatakan apabila terkena Covid-19 maka akan sangat berat untuk kembali ke kondisi semula. Oleh karena itu, dia berpesan untuk menjaga kondisi kesehatan di saat pandemi.

“Untuk meningkatkan imunitas selama pandemi, bisa dengan olahraga minimal lakukan stretching atau peregangan, berjemur juga penting. Saya berkebun sambil memanfaatkan halaman belakang untuk menanam. Selain itu, makanan perlu dijaga betul,” sarannya.

 

Penulis : Achmad Afandy
#Satgas Covid-19 #barru