Minggu, 18 Oktober 2020 23:59

"Tangkasaki Tidak Bisa Mattongkang Pak," Erwin Aksa Miris Lihat Pengelolaan Sampah di TPA Antang

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
"Tangkasaki Tidak Bisa Mattongkang Pak," Erwin Aksa Miris Lihat Pengelolaan Sampah di TPA Antang

Erwin masuk hingga ke dalam TPA dan menyaksikan timbunan sampah yang menggunung.

RAKYATKU.COM - Erwin Aksa mendadak mengunjungi TPA Antang, Minggu (18/10/2020). Apa yang terjadi?

Ternyata mantan ketua umum BPP Hipmi itu datang melihat pengelolaan sampah di Tamangapa.

Erwin masuk hingga ke dalam TPA dan menyaksikan timbunan sampah yang menggunung. Juga berdialog dengan pengelola yang tengah bekerja mengeruk sampah dengan alat berat.

Baca Juga : 

"Kenapa ini bisa menumpuk begini Pak? Itu alat keruk tidak cukup yah?" tanya Erwin kepada salah satu pengelola.

Pertanyaan Erwin ini dijawab Basri, seorang pengelola yang sudah bekerja selama puluhan tahun di TPA Antang dan masih berstatus tenaga kontrak.

"Kalau ini alat pengeruk (escavator) tidak cukup untuk mau kerja ini semua, karena kurang sekali jumlahnya. Tidak sampai 20 unit," ungkapnya.

Basri yang juga anggota Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) itu juga menerangkan bahwa proses pengangkutan sampah tidak berjalan maksimal.

Terkesan menyulitkan petugas sebab mobil atau truk angkutan 'Tangkasaki' yang diprakarsai Danny Pomanto bekerja secara manual.

"Ada 200-an truk Tangkasaki tapi tidak bisa mattongkang langsung. Jadi lama dikasih turun itu sampah. Beda kalau kita pakai truk tongkang kan bisa langsung ditumpah. Jadi kadang antre panjang mobil truk di sini kalau malam," sambungnya.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, volume sampah kota Makassar diperkirakan mencapai 900 sampai 1.200 ton per hari.

Bukan hanya itu, Basri menyebut tugas mereka makin berat jika memasuki musim penghujan. Alasannya, area TPA dipenuhi lumpur yang tingginya hingga 20 sentimeter.

"Kalau hujan itu becek di sini gara-gara lumpur, susah orang kerja. Di situmi biasa banyak truk yang antre panjang sampai luar-luar sana," tuturnya.

Apa yang disampaikan Basri ini pun, menurut Erwin Aksa, sebagai gambaran nyata kegagalan Danny Pomanto sebagai wali kota. Janji membangun TPA modern dengan konsep TPA Bintang Lima tidak terbukti.

"Sampai saat ini pengelolaan sampah di sini masih konvensional. Kasian kan teman-teman pengelola sampah tadi kalian sudah dengar mereka mengeluh kalau musim hujan becek, berlumpur dan bau, ada lagi mobil Tangkasaki yang dibangun katanya bisa berkerja secara mekanis tapi ternyata kerja manual sehingga mubazir pemborosan anggaran. Apakah itu salah desain atau memang tidak memiliki visi yang benar," ucapnya.

Erwin menerangkan bahwa kondisi ini pula sebagai gambaran bahwa Pemerintah Kota Makassar sebelumnya tak memiliki visi yang jelas dalam menangani masalah persampahan ini.

"Inilah salah satu contoh bahwa pemerintah tidak bekerja dengan baik. Kalau pemerintahnya berjalan dengan baik ini bisa dikelola. Inilah salah satu masalah di kota-kota urban seperti Kota Makassar yang harus segera diselesaikan," tegasnya.

Untuk membangun TPA dengan pengelolaan yang baik dan modern, lanjut Erwin, tidaklah begitu sulit jika pemerintahnya paham dan ingin membuka diri untuk investasi dari pihak swasta.

Menurutnya, pemerintah daerah atau Pemerintah Kota Makassar dengan mengandalkan APBD yang hanya berkisar Rp4 triliun tak mampu membangun sendiri TPA modern.

"Sehingga membangun TPA itu harus menggandeng swasta. Terus kan ada perpres yang memberikan jaminan bahwa setiap ton sampah yang dikelola oleh TPA itu dibayar Rp500 ribu. Nah, kalau pemdanya tidak sanggup, dibantu oleh APBN dan itu sudah ada. Tapi karena manajemen yang tidak baik, tak mampu mengelola dengan baik TPA bintang 5 yang dimimpikan itu tidak pernah terjadi, tidak terwujud," tutupnya.

#Pilkada Makassar #appi-rahman