Rabu, 30 September 2020 09:02

Pemimpin Kuwait sang Bapak Kemanusiaan Wafat pada Usia 91 Tahun

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Syekh Sabah Al Ahmad Al Sabah.
Syekh Sabah Al Ahmad Al Sabah.

Syekh Sabah mendapat predikat "father of humanity" alias "bapak kemanusiaan". Sematan itu tak lepas dari berbagai upaya kemanusiaannya di seluruh dunia.

RAKYATKU.COM - Penguasa Kuwait, Syekh Sabah Al Ahmad Al Sabah, telah meninggal dunia, Selasa malam (29/9/2020) waktu Indonesia. Dia meninggal pada usia 91 tahun.

"Dengan kepedihan dan kesedihan mendalam, kita berkabung bersama rakyat Kuwait, negara-negara Arab dan Islam, dan warga dunia yang bersahabat atas wafatnya Yang Mulia Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, Emir dari Negara Kuwait yang berpulang kepada-Nya," demikian pernyataan istana kerajaan, sebagaimana disampaikan oleh televisi pemerintah Kuwait.

Jaringan televisi NBC News mengatakan dua bulan lalu, dia diterbangkan ke AS dengan menggunakan rumah sakit udara C-17 dari Angkatan Udara AS setelah menjalani operasi.

Saudara tiri Syekh Sabah, putra mahkota Syekh Nawaf Al Ahmad Al Sabah, 83 tahun, diperkirakan akan menjadi pemimpin baru negara kaya minyak itu.

Sebelum mengambil alih kekuasaan pada tahun 2006, Sheikh Sabah adalah menteri luar negeri Kuwait, dan selama kurun waktu itu, dia bertugas memperbaiki hubungan dengan Irak, yang terpecah sejak Perang Teluk 1990 di mana koalisi pasukan, yang dipimpin oleh AS membebaskan Kuwait setelah diinvasi Irak.

Syekh Sabah menjadi tuan rumah konferensi donor untuk mengumpulkan dana bagi Irak, Suriah dan negara-negara lain yang dilanda perang. Ia juga berupaya meredakan ketegangan yang berkelanjutan antara Qatar dan negara-negara Arab lainnya.

Seorang juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres menyebut Syekh Sabah sebagai "sahabat dekat Perserikatan Bangsa-Bangsa" yang "selalu berusaha untuk memperkuat hubungan untuk tujuan bersama dalam memelihara perdamaian dan stabilitas di kawasan itu dan di seluruh dunia.

"Yang Mulia adalah seorang negarawan terkemuka dan seorang pembela kemanusiaan luar biasa yang berkontribusi membangun jembatan pemahaman di kawasan Teluk dan sekitarnya," tambah juru bicara itu.

Di dalam negeri menurut laporan kantor berita AP, masa jabatan Syekh Sabah ditandai dengan persaingan politik yang kuat, pergolakan Arab 2011 dan tidak stabilnya harga minyak.

"Ia mewakili generasi pemimpin Teluk yang lebih tua yang menghargai kebijaksanaan dan kesederhanaan serta pentingnya hubungan pribadi di antara sesama raja," kata Kristin Diwan, seorang ilmuwan senior di Arab Gulf States Institute di Washington, kepada AP.

"Tidak diragukan lagi ia menderita karena kurangnya rasa hormat dan segan yang ditunjukkan oleh para pangeran muda yang lebih berani dan memegang kekuasaan saat ini."

Syekh tersebut adalah penguasa ke-15 pada dinasti Al Sabah di Kuwait yang dimulai pada 1752. Ia adalah emir kelima sejak Kuwait merdeka dari Inggris pada tahun 1961.

Syekh Sabah mendapat predikat "father of humanity" alias "bapak kemanusiaan". Sematan itu tak lepas dari berbagai upaya kemanusiaannya di seluruh dunia.

Sumber: VOA Indonesia

#Syekh Sabah Al Ahmad Al Sabah #Kuwait