Rabu, 29 Juli 2020 10:25

Masuk Tahap Uji Akhir, Ribuan Relawan di AS Disuntik Vaksin Virus Corona

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi vaksin virus corona (iStockphoto/herraez)
Ilustrasi vaksin virus corona (iStockphoto/herraez)

Jaringan Pencegahan Covid-19 yang didanai pemerintah akan meluncurkan penelitian baru tentang kandidat vaksin terkemuka - masing-masing dengan 30.000 relawan yang baru direkrut. Penelitian besar tidak hanya untuk menguji apakah suntikan tersebut ampuh - tapi juga diperlukan untuk memeriksa setiap keamanan vaksin potensial.

RAKYATKU.COM - Penelitian vaksin Covid-19 terbesar dunia memasuki tahap uji terakhir diikuti 30.000 relawan yang disuntik. Vaksin ini adalah satu dari beberapa kandidat dalam rangkaian akhir pencarian vaksin global untuk melawan virus corona.

Masih belum ada jaminan bahwa vaksin eksperimental, yang dikembangkan oleh Institut Kesehatan Nasional AS dan Moderna Inc., akan benar-benar memberikan perlindungan.

Bukti yang dibutuhkan: Relawan tidak akan tahu apakah mereka mendapatkan suntikan asli atau versi tiruan. Setelah dua dosis, para ilmuwan akan dengan cermat melacak kelompok mana yang mengalami lebih banyak infeksi ketika mereka menjalani rutinitas harian mereka, terutama di daerah-daerah di mana virus masih menyebar tanpa terkendali.

Dilansir merdeka.com dari AP, Selasa (28/7), vaksinasi dilaksanakan di Savannah, Georgia, lokasi pertama di antara puluhan lokasi percobaan yang tersebar di seluruh negeri.

Di Binghamton, New York, perawat Melissa Harting mengatakan dia mengajukan diri sebagai relawan karena ingin membantu.

"Saya senang," kata Harting sebelum dia menerima suntikan pada Senin pagi.

Beberapa vaksin lain yang dibuat oleh China dan juga Universitas Oxford Inggris memulai tes tahap akhir dengan skala lebih kecil di Brasil dan negara-negara lain dengan kasus yang tinggi awal bulan ini.

Tetapi AS memerlukan tes sendiri untuk setiap vaksin yang mungkin digunakan di negara itu dan telah menetapkan standar yang tinggi: Setiap bulan hingga musim gugur, Jaringan Pencegahan Covid-19 yang didanai pemerintah akan meluncurkan penelitian baru tentang kandidat vaksin terkemuka - masing-masing dengan 30.000 relawan yang baru direkrut.

Penelitian besar tidak hanya untuk menguji apakah suntikan tersebut ampuh - tapi juga diperlukan untuk memeriksa setiap keamanan vaksin potensial. Dan mengikuti aturan penelitian yang sama akan memungkinkan para ilmuwan pada akhirnya membandingkan semua suntikan.

Selanjutnya pada Agustus, studi terakhir dari suntikan vaksin Oxford dimulai, diikuti oleh rencana untuk menguji calon vaksin dari Johnson & Johnson pada September dan Novavax pada Oktober - jika berjalan sesuai jadwal. Pfizer Inc berencana melibatkan 30.000 orang untuk penelitian musim panas ini.

Dalam beberapa pekan terakhir, lebih dari 150.000 warga Amerika berminat sebagai relawan dan melakukan pendaftaran daring, kata Dr. Larry Corey, ahli virologi di Fred Hutchinson Cancer Research Institute di Seattle, yang membantu mengawasi lokasi penelitian.

"Uji coba ini harus multigenerasi, harus multietnis, harus mencerminkan keragaman populasi Amerika Serikat," kata Corey pekan lalu.

Dia menekankan pentingnya memastikan cukup peserta kulit hitam dan hispanik karena populasi tersebut sangat terdampak Covid-19.

Biasanya dibutuhkan bertahun-tahun untuk membuat vaksin baru dari awal, tetapi para ilmuwan membuat catatan kecepatan kali ini, didorong oleh pengetahuan bahwa vaksinasi adalah harapan terbaik dunia melawan pandemi. Bahkan sebelum akhir Desember, virus corona tak diketahui dan pembuat vaksin mulai bertindak pada 10 Januari ketika China berbagi urutan genetik virus.

Hanya 65 hari kemudian pada Maret, vaksin buatan NIH diuji pada manusia. Penerima pertama mendorong orang lain menjadi relawan saat ini.

“Kita semua merasa sangat tidak berdaya saat ini. Sangat sedikit yang bisa kita lakukan untuk memerangi virus ini. Dan dapat berpartisipasi dalam uji coba ini membuat saya merasa telah melakukan sesuatu, " kata Jennifer Haller dari Seattle kepada AP.

Penelitian tahap pertama yang melibatkan Haller dan 44 orang lainnya menunjukkan suntikan vaksin meningkatkan sistem kekebalan relawan dengan cara yang diharapkan para ilmuwan akan bersifat protektif, dengan beberapa efek samping kecil seperti demam singkat, kedinginan, dan rasa sakit di tempat suntikan. Pengujian awal terhadap kandidat terkemuka lainnya memiliki hasil yang sama menggembirakan.

Jika semuanya berjalan baik dengan penelitian akhir, masih akan butuh berbulan-bulan untuk data pertama mengalir dari tes Moderna, diikuti oleh yang Oxford.