Kamis, 04 Juni 2020 17:57

"Kalau Virus Tak Mati, Buat Apa Disemprot?" DPRD Makassar Sentil Tim Gugus Tugas Covid-19

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Kasrudi
Kasrudi

Anggota DPRD Kota Makassar, Kasrudi menyentil Tim Gugus Tugas Covid-19. Dia menganggap mereka cenderung berlebihan dalam penanganan jenazah.

RAKYATKU.COM -- Anggota DPRD Kota Makassar, Kasrudi menyentil Tim Gugus Tugas Covid-19. Dia menganggap mereka cenderung berlebihan dalam penanganan jenazah.

Kasrudi mengacu pada kasus yang dialami Andi Arni Esa Putri Abram. Dalam video yang beredar, wanita muda itu meronta-ronta karena menolak ibunya dimakamkan sesuai protokol Covid-19.

Apalagi hasil tes menunjukkan, ibunya meninggal karena penyakit lain. Bukan corona.

Kalaupun jenazah positif corona, lanjut Kasrudi, Tim Gugus Tugas Covid-19 juga tidak perlu berlebihan. Sampai menghalang-halangi keluarga pasien untuk melihat jasadnya.

"Prosedurnya kan jenazah itu sudah sangat steril, disemprot disinfektan, dikafani, dibungkus plastik berlapis-lapis kemudian dimasukkan ke dalam peti. Kasih dong keluarganya kesempatan untuk melihat jenazah untuk terakhir kalinya," ujar legislator asal Partai Gerindra itu, Kamis (4/6/2020).

Kasrudi memaparkan, jika jenazah tersebut sudah disterilkan dengan berbagai macam protap kesehatan, maka menurut para ahli, virus tersebut mati dengan sendirinya.

"Lalu buat apa disemprot cairan disinfektan kalau virus itu tidak mati. Buat apa juga dibungkus berlapis-lapis. Sehingga menurut saya, keluarga inti berhak melihat jenazah untuk terakhir kalinya. Mereka berhak menyolati jenazah keluarganya. Kalau dianggap riskan beri mereka jarak, beri pembatas misalnya kaca atau kalau perlu kasih mereka baju hazmat dan APD lengkap," tambah anggota Komisi A itu.

Usulan ini dibuat bukan tanpa alasan. Ia prihatin dengan masyarakat yang mengalami hal seperti itu. Sehingga menjadi kewajibannya mengetuk hati pemerintah untuk mempertimbangkan prosedur yang telah ditetapkan.

"Kalau keluarganya Tim Gugus Tugas Covid yang mengalami seperti itu, bagaimana coba perasaannya. Pakai hati nuraninya sedikit. Jangan protap kesehatan jadi alat untuk menakut-nakuti masyarakat," ungkapnya.