Minggu, 22 Maret 2020 20:45

Susah Payah Didatangkan dengan Biaya Miliaran dari China, Jubir: Hasil Rapid Test Bukan Jaminan

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Pemerintah segera melakukan rapid test terduga corona. Sebanyak 150 ribu kit test telah didatangkan dari China. Dijemput khusus pakai pesawat Hercules milik TNI.

RAKYATKU.COM - Pemerintah segera melakukan rapid test terduga corona. Sebanyak 150 ribu kit test telah didatangkan dari China. Dijemput khusus pakai pesawat Hercules milik TNI.

Anggota DPR RI, Fadli Zon membocorkan bahwa harga alat tes itu 3,5 dolar per satuan. Sekitar Rp55 ribu. Artinya, total harganya mencapai Rp8,2 miliar. 

Itu baru harga alat. Belum termasuk biaya yang digunakan untuk menjemput alat tersebut ke China.

Ternyata, pemeriksaan cepat tidak terlalu bisa diandalkan. Tidak cukup hanya dengan sekali tes.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, hasil pemeriksaan negatif belum tentu seseorang benar-benar tidak terinfeksi. 

Menurut Yuri, kondisi tersebut bisa saja terjadi karena respons imunologi tubuh belum muncul. Oleh karenanya, untuk memastikan ada tidaknya infeksi virus, seseorang harus kembali dites tujuh hari pasca-tes pertama. 

"Untuk memastikan apakah memang betul-betul negatif apakah memang masih dalam masa di mana respons serologinya belum terbentuk," jelas Yuri dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Minggu (22/3/2020).

Jika tes kedua tetap negatif, bisa diyakini bahwa saat itu yang bersangkutan tidak terinfeksi virus corona. Tetapi, bukan tidak mungkin bahwa selang satu hari berikutnya status orang tersebut menjadi positif. 

Begitu pula jika hasil rapid test menunjukkan seseorang positif corona. Masih harus dilakukan peneriksaan ulang dengan menggunakan PCR atau polymerase chain reaction.

PCR diyakini memberi hasil yang lebih akurat karena menggunakan metode molekuler. Alat ini memiliki sensitivitas jauh lebih tinggi dibanding dengan rapid test yang berbasis pada serologi.