Selasa, 21 Januari 2020 09:01

"Kalau Tidak Mau Miskin, Jangan Sakit," Lima Penyakit Baru Muncul Setiap Tahun

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Dr dr Rachmat Latief
Dr dr Rachmat Latief

Dr Rachmat Latief menunjuk layar. Di Four Point By Sheraton, dia memperlihatkan data menakutkan.

RAKYATKU.COM,MAKASSAR - Dr Rachmat Latief menunjuk layar. Di Four Point By Sheraton, dia memperlihatkan data menakutkan.

"Para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul tiap tahun. Tiga di antaranya bersumber dari binatang. Seperti yang muncul di China itu," tuturnya. 

Rachmat Latief mantan kepala Dinas Kesehatan Sulsel. Dia hadir sebagai narasumber dalam konferensi pers Prudential. Setelah tak lagi jadi pejabat, Rachmat menekuni profesinya sebagai ahli penyakit dalam di RS Awal Bros, Makassar.

Dia tampil dengan kemeja kebiru-biruan dipadukan dengan celana kain hitam lengkap dengan sepatu. Dia memaparkan prevalensi penyakit kritis yang kian berkembang setiap tahunnya.

"Permasalahan kesehatan dewasa ini makin nyata. Sangat mengancam. Masyarakat harus selalu bersiap dan waspada," katanya. 

Katanya, ada 68.000 jenis penyakit kritis ditemukan. Indonesia pun tak lepas dari bahaya kesehatan tersebut. Juga kemunculan penyakit baru. 

Tahun lalu masyarakat Sulawesi Selatan diguncang kejadian luar biasa berupa demam serentak. Menimpa warga Kabupaten Jeneponto. 

"Dari 70 orang yang terkena demam, tujuh di antaranya meninggal dunia. Setelah investigasi yang menyeluruh, penyakit ‘misterius’ ini akhirnya diidentifikasi sebagai demam tifoid dan leptospirosis yang disebabkan oleh sanitasi buruk," jelasnya. 

Data Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan menunjukkan, terdapat 1.737 kasus DBD pada 2017. Meningkat menjadi 2.141 penderita pada 2018. 

"Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit kritis dapat menyerang siapa saja. Sebaiknya masyarakat tidak terpaku menghindari hanya suatu penyakit tertentu," tambahnya lagi. 

Menurutnya, penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial, hingga finansial. 

"Kalau tidak mau miskin, yah jangan sakit. Karena kalau sudah sakit, uang akan terkuras. Produktivitas kerja tidak lagi, bahkan properti yang dimiliki akan dijual," ujarnya. 

Ia menjelaskan, menjawab tantangan kesehatan yang makin kompleks dengan penyakit kritis yang kian berkembang, asuransi seperti Prudential adalah solusinya. 

[NEXT]

Mengawali 2020, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) membuat terobosan baru dengan meluncurkan PRUTotal Critical Protection (PRUTop), dan PRUTotal Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah). 

Solusi ini adalah rangkaian produk pelengkap asuransi tambahan inovatif pertama di industri. Ini memastikan masyarakat Indonesia terlindungi secara total tanpa ada batasan jumlah maupun jenis penyakit kritis.

President Director Prudential Indonesia, Jens Reisch menjelaskan, asuransi ini eksis hampir 25 tahun. Prudential Indonesia senantiasa meningkatkan komitmennya untuk menjadikan masyarakat Indonesia hidup lebih sehat dan lebih lama.

"Kami menyadari kebutuhan masyarakat Indonesia akan perlindungan yang makin dinamis. Oleh karena itu, dengan optimisme kampanye ‘We DO’ Prudential, kami terus berinovasi dengan meluncurkan PRUTop dan PRUTop Syariah, rangkaian solusi asuransi yang melindungi masyarakat dari kondisi kritis secara total,” jelas pria kelahiran Jerman itu. 

PRUTop dan PRUTop Syariah tersedia untuk para nasabah Prudential Indonesia yang telah memiliki produk asuransi dasar PRULink Generasi Baru atau PRULink Syariah Generasi Baru. 

Dengan mengusung tagline “hidup tenang dengan perlindungan total”, PRUTop dan PRUTop Syariah menawarkan beberapa keunggulan utama.

Pertama, perlindungan atas kondisi kritis yang lebih luas. Tidak lagi terbatas pada jumlah penyakit kritis yang dilindungi. Maksimal uang pertanggungan hingga Rp5 miliar. 

PRUTop dan PRUTop Syariah yang dibeli bersamaan dengan PRUEarly Stage Crisis Cover Plus (konvensional dan syariah) merupakan perlindungan kondisi kritis yang komplit. 

Tidak ada ketentuan masa bertahan hidup (survival period). Perlindungan atas penyakit kritis yang belum ditemukan (future-proof). 

"Asuransi kondisi kritis saat ini terbatas pada diagnosis jenis penyakit. PRUTop dan PRUTop Syariah menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang berfokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis," jelas dia.