RAKYATKU.COM - Dua juta anak-anak dan remaja tidak bersekolah di Yaman akibat perang yang meningkat pada Maret 2015. Lebih lanjut 3,7 juta anak berisiko karena gaji guru belum dibayarkan dalam lebih dari dua tahun.
Hal itu berdasarkan pernyataan UNICEF pada hari Rabu (25/9/2019), dikutip dari Aljazeera.
"Kekerasan, pemindahan dan serangan terhadap sekolah mencegah banyak anak mengakses sekolah," kata Sara Beysolow Nyanti, perwakilan UNICEF di Yaman.
Arab Saudi dan sekutunya meluncurkan kampanye pemboman dahsyat di negara Timur Tengah yang miskin itu hampir lima tahun lalu setelah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dicopot dari kekuasaan oleh pemberontak Houthi yang bermarkas di Iran.
Setidaknya 10.000 orang telah tewas dalam perang dan lebih dari 24 juta sangat membutuhkan bantuan dan kemungkinan berisiko kelaparan.
PBB mengatakan negara itu menghadapi darurat kemanusiaan terburuk diikuti oleh Afghanistan, Kamerun, dan Republik Afrika Tengah.
Satu dari lima sekolah di negara itu tidak dapat lagi digunakan sebagai akibat langsung dari konflik yang telah menghancurkan sistem pendidikan Yaman yang sudah rapuh, kata badan PBB itu.
"Anak-anak yang tidak bersekolah menghadapi risiko yang meningkat dari semua bentuk eksploitasi termasuk dipaksa untuk bergabung dengan pertempuran, pekerja anak dan pernikahan dini," kata Nyanti.
"Mereka kehilangan kesempatan untuk berkembang dan tumbuh di lingkungan yang peduli dan merangsang, pada akhirnya menjadi terjebak dalam kehidupan kemiskinan dan kesulitan."
Menurut UNICEF, 1,8 juta anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk.
