Sabtu, 03 Agustus 2019 10:31

Penjelasan Mengapa Wanita Lebih Rentan Terhadap Migrain

Suriawati
Konten Redaksi Rakyatku.Com
INT
INT

Sejauh ini penelitian mengungkapkan bahwa hormon memainkan peran utama dalam memicu migrain pada wanita.

RAKYATKU.COM - Menurut statistik, hampir 30 persen populasi global menderita migrain. Ini adalah penyakit yang mempengaruhi lebih banyak wanita dari pria, dengan perbandingan tiga dari satu.

Penelitian menunjukkan bahwa wanita mengalami migrain yang lebih lama dan lebih menyakitkan, dan 85 persen dari kasus migrain kronis dilaporkan pada wanita.

Karena banyaknya wanita yang menderita migrain, para ahli medis dan peneliti telah menjadikannya sebagai topik penting untuk dipelajari.

Sejauh ini penelitian mengungkapkan bahwa hormon memainkan peran utama dalam memicu migrain pada wanita.

Pada kebanyakan wanita, migrain berhubungan dengan menstruasi, kontrasepsi hormonal, kehamilan dan menopause.

Studi menunjukkan bahwa, ketika seorang wanita mulai menstruasi, hormon mulai berfluktuasi, dan menyebabkan migrain.

Selain itu, hormon estrogen juga diyakini memiliki peranan penting dalam migran.

"Migrain umumnya disebabkan ketika pembuluh di otak Anda (atau pembuluh darah otak) melebar karena pemicu tertentu. Pelebaran ini menyebabkan rasa sakit dan gejala visual ketika pembuluh menekan daerah sekitarnya," kata Dr Sneha Ajay, dokter di Fortis Hospital, India, dikutip Boldsky.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa estrogen berperan dalam pelebaran pembuluh itu. "Ini bukan fungsi utama tetapi salah satu dari banyak fungsinya," katanya.

"Estrogen adalah hormon seks wanita, sehingga kemungkinan estrogen menyebabkan perubahan pada pembuluh otak ini lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria."

Namun, meskipun pemahaman saat ini tentang migrain pada wanita terkait dengan hormon estrogen, penelitian masih berlangsung untuk mengumpulkan pemahaman yang lebih jelas tentang migrain pada wanita.

"Ini adalah apa yang kita ketahui saat ini tentang sakit kepala migrain dan peran estrogen di dalamnya. Masih ada banyak penelitian yang sedang berlangsung," kata Dr Sneha.