Minggu, 09 Juni 2019 08:39

Setelah 4 Bulan, Venezuela Buka Kembali Perbatasan Dengan Kolombia

Suriawati
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Orang-orang mengantri untuk menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira di Venezuela ke Cucuta, Kolombia, untuk membeli barang-barang [Schneyder Mendoza / AFP]
Orang-orang mengantri untuk menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira di Venezuela ke Cucuta, Kolombia, untuk membeli barang-barang [Schneyder Mendoza / AFP]

Presiden Venezuela Nicolas Maduro membuka kembali perbatasan dengan Kolombia, setelah ditutup selama empat bulan.

RAKYATKU.COM - Presiden Venezuela Nicolas Maduro membuka kembali perbatasan dengan Kolombia, setelah ditutup selama empat bulan.

Berkat langkah itu, ribuan orang menyeberang ke Kolombia untuk membeli makanan dan obat-obatan.

Pada hari Sabtu, antrean panjang bisa terlihat di dua jembatan internasional dekat kota Cucuta, di mana orang-orang menunggu untuk pemeriksaan dokumen.

Al Jazeera melaporkan bahwa beberapa dari mereka membawa anak-anak di pundak mereka.

Para penjaga perbatasan Venezuela yang mengenakan seragam hijau membantu mengendalikan kerumunan.

Pemerintah Venezuela menutup perbatasan dengan Aruba, Bonaire, Curacao, Brazil dan Colombia pada bulan Februari ketika oposisi mencoba mengirimkan makanan dan pasokan medis ke negara itu.

Sebagian besar bantuan diberikan oleh Amerika Serikat, sekutu utama pemimpin oposisi Juan Guaido yang menyatakan dirinya sebagai presiden Venezuela yang sah pada bulan Januari.

Namun Maduro menolak bantuan itu karena melanggar kedaulatan Venezuela dan melarangnya masuk.

Pada bulan Mei, pemerintah membuka kembali perbatasan dengan Aruba dan Brasil, tetapi Jembatan Internasional Simon Bolivar dan Jembatan Internasional Francisco de Paula Santander dengan Kolombia tetap ditutup.

Ketika mengumumkan pembukaan kembali perbatasan dengan Kolombia pada hari Jumat, Maduro mengatakan: "Kami adalah orang yang damai yang sangat membela kemerdekaan dan penentuan nasib kami sendiri."