RAKYATKU.COM - Mantan wakil presiden Iran, Mohammad Ali Najafi akhirnya secara blak-blakan membeberkan alasan membunuh istrinya, Mitra Ostad (35).
Mitra Ostad adalah istri kedua Najafi. Mulanya, Najafi meminta cerai dan istrinya menolak. Lalu ia menembak istrinya sebanyak lima kali. Dua peluru mengenai Ostad dan satu menembus jantungnya.
Najafi lalu menyerahkan diri. Di kantor polisi ia disambut kamera televisi yang merekam beberapa babak yang dramatis.
TV pemerintah Iran, IRIB, merekam Najafi saat berjalan memasuki kantor polisi, dan seluruh peristiwa ini ditampilkan sebagai "breaking news" yang menimbulkan debat mengenai keadilan di Iran.
Polisi tampak membungkuk menghormatinya dengan tangan di dada serta memberi salam pada Najafi dengan hormat.
Ia kemudian difilmkan dalam keadaan duduk, bercakap dengan polisi sambil terlihat minum teh di latar belakang sementara reporter melaporkan rincian kasus ini melalui kamera ke pemirsa.
This video is an example of the hypocrisy that fuels popular uprisings against authoritarian regimes. After murdering his wife this AM, former Iranian VP/Mayor of Tehran Mohammad-Ali Najafi is greeted with great deference by the Tehran police, no handcuffs pic.twitter.com/B78BCDIJ13
— Karim Sadjadpour (@ksadjadpour) May 28, 2019
Najafi diperlakukan amat sopan, memunculkan perbandingan dengan perlakukan terhadap warga biasa yang melakukan kekeliruan kecil seperti tak berpuasa di depan umum atau tidak memakai jilbab, misalnya.
Padahal Najafi saat itu akan membuat pengakuan bahwa ia membunuh istrinya. Adegan ini bahkan dibandingkan dengan adegan film Se7en saat Kevin Spacey masuk ke kantor polisi bersimbah darah.
Namun pertanyaannya justru: kenapa kamera mendapat akses langsung ke tersangka dan barang bukti? Jawabannya politis.
Najafi, politikus reformis, memiliki kedekatan dengan Presiden Rouhani sampai ia dipaksa mundur dari posisi Wali Kota Teheran sesudah politikus garis keras mengkritiknya karena menghadiri acara Hari Perempuan Dunia di sebuah sekolah di mana para perempuan menari—sesuatu yang dianggap "tidak Islami".
Najafi sudah lama menjadi target politikus garis keras, dan stasiun penyiaran milik pemerintah IRIB menjalin hubungan erat dengan mereka.
Namun kenapa ia membunuh istrinya?
Poligami dan perceraian
"Saya hanya ingin menakutinya. Saya minta cerai, tapi ia menolak. Saya salah," kata Najafi kepada petugas penyidik, dikutip BBC.
Poligami legal di Iran, tetapi pernikahan kedua Najafi ini dianggap skandal oleh kaum reformis karena hal ini tak lazim bagi kaum terdidik. Najafi sendiri adalah akademisi dan lulusan universitas top di Amerika, MIT.
Najafi mundur dari posisi wali kota lantaran kritik terhadap poligaminya ini.
Pengakuan
Video Najafi di kantor polisi diikuti keesokan paginya oleh rekaman pengakuan–yang juga dibuat oleh IRIB–di mana ia mengaku membunuh istrinya sesudah sempat berkelahi.
Di video itu, Najafi berkata ia punya masalah panjang dalam pernikahannya dengan Ostad dan ini terus meningkat.
"Saya kehilangan ketenangan. Saya ambil senjata, dan ia ke kamar mandi. Saya ikuti. Sebetulnya hanya untuk membuat ia takut. Saya perlihatkan senjata itu dan berkata: kamu mau akhiri percakapan ini atau tidak? Ia panik dan, bisa dibilang sempat bergelut dengan saya. Ia melemparkan diri ke saya, dan senjata itu menyambutnya."
Najafi terus menjelaskan bahwa ia meminta cerai baik-baik tapi Ostad menolak. Najafi bahkan menawarkan membayar 1.362 koin emas untuk meninggalkan Ostad—sebagaimana disepakati dalam pernikahan mereka.
Ujung-ujungnya, Najafi berkata bahwa sikap keras kepala Ostad menyebabkan kematiannya.
????
— ?????? ???? ?????? (@Entekhab_News) May 28, 2019
???? #???? ?? ?????? ?????? ?? ?? ??? #?????_?????:
???? ???????? ???????? ??? ????? ????? ???? ???
????????? ??????? ???? ???? ??? ????? ???????
?????????? ???? pic.twitter.com/OjdUHeEXcL
