Sabtu, 11 Mei 2019 16:48

Bom Ninja, Rudal Rahasia Baru Pentagon untuk Membunuh Terget Bernilai Tinggi

Suriawati
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Rudal Hellfire
Rudal Hellfire

Senjata itu dinamai R9X, dan merupakan rudal Hellfire yang dimodifikasi. Itu memiliki enam bilah panjang, dan proyektil berkecepatan tinggi.

RAKYATKU.COM - Pemerintah AS memiliki senjata rahasia baru, yang dapat membunuh target di seluruh dunia dengan tepat, serta risiko korban sipil yang lebih rendah.

Senjata itu dinamai R9X, dan merupakan rudal Hellfire yang dimodifikasi. Itu memiliki enam bilah panjang, dan proyektil berkecepatan tinggi. Bilah-bilahnya akan merobek apa pun yang menghalangi jalan mereka.

Senjata ini juga dikenal dengan bahasa sehari-hari sebagai "Ginsu yang terbang" atau "bom ninja" karena memiliki bilah.

Senjata ini sudah dalam pengembangan sejak awal 2011. Dan menurut The Wall Street Journal, baik Pentagon dan CIA telah menggunakan R9X untuk membunuh target di kendaraan dan bangunan tanpa membahayakan orang sekitar.

Namun, menurut sumber anonim yang mengetahui senjata itu, R9X masih jarang digunakan dan hanya dalam keadaan khusus, seperti pada target bernilai tinggi di lokasi sensitif.

Dikatakan bahwa Departemen Pertahanan AS hanya menggunakan RX9 sekitar enam kali, di tempat-tempat seperti Libya, Suriah, Irak, Yaman dan Somalia.

Rudal yang serupa kabarnya dijadikan sebagai opsi cadangan untuk membunuh pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden ketika ia berada di kompleksnya di Abbottabad, meskipun pada akhirnya itu tidak diperlukan.

Menurut The Journal, salah satu penggunaan RX9 dilakukan pada Januari 2019 terhadap Jamal al-Badawi (dalang pemboman USS Cole tahun 2000). Dia terbunuh oleh serangan udara di Yaman, namun RX9 diyakini telah digunakan. Pentagon telah mengakui serangan itu namun tidak menyebutkan penggunaan RX9.

Pada Februari 2017, komandan senior Al-Qaeda Ahmad Hasan Abu Khayr al-Masri dibunuh di Suriah. Dia juga diyakini telah terbunuh oleh R9X yang ditembakkan oleh CIA, meskipun agensi tersebut tidak mengakui serangan udara itu.