RAKYATKU.COM - Serangan mematikan di Selandia Baru dan Sri Lanka, telah memicu upaya global untuk menghentikan promosi terorisme di media sosial.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern telah mengumumkan bahwa ia dan Presiden Prancis Emmanuel Macron akan memimpin upaya tersebut.
"Ini bukan tentang kebebasan berekspresi; ini tentang mencegah ekstremisme dan terorisme daring," kata Ardern kepada selama konferensi pers di Auckland, Rabu (24/04/2019).
"Apa yang kami coba atasi di sini adalah masalah global dan oleh karena itu saya pikir memerlukan respons global," katanya.
Macron dan Ardern berencana untuk mengadakan pertemuan dengan para pemimpin dunia dan eksekutif perusahaan teknologi di Paris pada 15 Mei, bersamaan dengan pertemuan Tech for Humanity dari negara-negara industri terkemuka.
Robert Pape, seorang profesor Universitas Chicago yang berspesialisasi dalam keamanan internasional dan direktur Proyek Chicago untuk Keamanan dan Ancaman, mengatakan bahwa rencana pertemuan tu adalah langkah yang baik, tetapi para pakar terorisme harus diundang.
"Itu karena media sosial telah menjadi pusat dalam menyebarkan terorisme, kata Pape.
"Media sosial menawarkan peluang bagi teroris Islam, teroris supremasi kulit putih, dan bahkan penembak sekolah untuk memperkuat diri mereka sendiri, kemuliaan bagi diri mereka sendiri."
Umumnya, beberapa negara memilih untuk memblokir sosial media, jika itu dilihat dapat membahayakan.
Menurut Freedom House, setidaknya 21 negara memblokir media sosial antara 2017 hingga 2018.
Di Sri Lanka, negara kepulauan itu masih terhuyung-huyung akibat pemboman Minggu Paskah yang menewaskan lebih dari 350 orang di gereja dan hotel.
Pemerintah memilih untuk mematikan Facebook dan Instagram untuk mencegah informasi palsu menyebar secara online.
Pihak berwenang Sri Lanka menggunakan taktik yang sama pada tahun 2018, untuk menghentikan desas-desus anti-Muslim setelah informasi yang salah menghasut kerusuhan di negara itu.
