Jumat, 23 Oktober 2026 19:44

Rudianto Lallo Desak BNN dan Polda Putus Mata Rantai Narkoba di Sulsel, Bukan Sekadar Menyisir Kampung

Syukur Nutu
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo dalam sarasehan yang dilaksanakan di Rumah Aspirasi di Makassar pada Jumat 23/10/2026. (Dok Rakyatku)
Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo dalam sarasehan yang dilaksanakan di Rumah Aspirasi di Makassar pada Jumat 23/10/2026. (Dok Rakyatku)

"Kalau menyisir pengguna kan enggak ada artinya, percuma. Pengguna itu kan korban. Jadi harapan kita tidak sekedar menyisir kampung narkoba, tetapi yang paling utama adalah memutus pintu masuk narkoba ini masuk di Sulawesi Selatan. Bagaimana caranya? Laut kita jagain. Di mana pelabuhan-pelabuhan, periksa kapal-kapal, siapa pemainnya, mapping bandar-bandarnya siapa,"

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo mendesak Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Satres Narkoba Polda Sulsel dan jajaran tidak sekadar menyisir kampung-kampung yang disinyalir menjadi lokasi peredaran narkoba. Menurutnya, langkah paling utama adalah memutus mata rantai peredaran narkoba, terutama pintu masuk barang haram tersebut ke wilayah Sulawesi Selatan.

"Polda dan BNN yang sudah menyisir kampung-kampung yang disinyalir beredarnya narkoba, tetapi saya katakan tidak sekedar menyisir kampung-kampung narkoba. Yang paling utama adalah memutus mata rantai," kata Rudianto Lallo dalam kegiatan sarasehan yang dilaksanakan di Rumah Aspirasi di Makassar pada Jumat 23/10/2026.

Kegiatan saresehan ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Selatan, Brigjen Pol. Drs. Agung Prabowo dan dua pemateri lainnya.

Baca Juga : Rudianto Lallo Peringati HUT Kemerdekaan RI ke-80 Bersama Anak-anak

Rudianto Lallo menjelaskan, peredaran narkoba ibarat sebuah ekosistem yang memiliki pasar. Makassar, lanjutnya, merupakan pasar yang besar. Karena itu, ia mempertanyakan dari mana barang tersebut berasal.

"Makassar ini kan pasar. Nah, pertanyaannya barang itu dari mana? Itu yang harus diputus. Disinyalir, misalkan masuk di pelabuhan. Apakah pelabuhan Makassar, pelabuhan Parepare. Ini yang harus diputus, dijagain. Jangan kemudian biarkan barang-barang ini masuk mudah ke Sulawesi Selatan, lalu kemudian ini dimainkan oleh para bandar," tegasnya.

Rudianto menilai menyisir pengguna narkoba tidak akan efektif karena mereka adalah korban. Menurutnya, yang harus menjadi sasaran utama adalah para bandar dan pemain besar.

Baca Juga : Anggota Komisi lll DPR RI Rudianto Lallo Apresiasi Pengamanan Pilkada Serentak di Sulsel

"Kalau menyisir pengguna kan enggak ada artinya, percuma. Pengguna itu kan korban. Jadi harapan kita tidak sekedar menyisir kampung narkoba, tetapi yang paling utama adalah memutus pintu masuk narkoba ini masuk di Sulawesi Selatan. Bagaimana caranya? Laut kita jagain. Di mana pelabuhan-pelabuhan, periksa kapal-kapal, siapa pemainnya, mapping bandar-bandarnya siapa," ujarnya.

Ia meyakini BNN memiliki data mengenai nama-nama pemain besar yang beroperasi di Sulawesi Selatan. "Saya kira BNN punya datanya. Punya, nama-nama pemain-pemain besar yang main di Sulawesi Selatan. Ini yang harus ditangkapin, bukan pengguna-pengguna, karena itu hanyalah korban," tambahnya.

Rudianto juga menyinggung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mencakup pemberantasan narkoba. Dimana kebijakan amnesti banyak pengguna narkoba yang dinilainya lebih baik diarahkan pada rehabilitasi.

Baca Juga : Rudianto Lallo Hadiri Penyampaian LHP LKPP dan IHPS 2023

"Kalau kemarin kita lihat selama Presiden Prabowo ini begitu banyak yang diberi amnesti. Amnesti rata-rata pengguna narkoba yang di Lapas. Ya kasihan kan. Lebih baik direhabilitasi. Yang paling utama saya tekankan adalah bandar-bandar yang main di Sulsel ini yang harus diberantas," katanya.

Adapun kegiatan sarasehan tersebut bersifat edukasi bagi aktivis, mahasiswa, dan organisasi kepemudaan mengenai pentingnya menjaga Indonesia Emas 2040. Ia mengingatkan generasi muda agar waspada terhadap narkoba yang semakin canggih, termasuk yang kini berbentuk cairan.

"Kita tidak mau generasi kita tercemari dengan narkoba yang makin canggih. Ya kalau dulu kan narkoba fisik, kini bentuknya cairan atau istilah vape ya. Cairan ini yang harus diwaspadai, yang harus kita edukasi kepada anak-anak muda kita supaya menghindari, menjauhi apa yang disebut dengan narkoba. Kita menggandeng BNN untuk sama-sama mengkampanyekan bahaya narkoba," pungkasnya.

#Rudianto Lallo