Senin, 24 Agustus 2026 16:10

Lewat MY-SMART, Unhas Perkuat Jejaring Tindak Lanjut Kesehatan Mental Anak dan Remaja

Syukur Nutu
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Lewat MY-SMART, Unhas Perkuat Jejaring Tindak Lanjut Kesehatan Mental Anak dan Remaja

Implementasi MY-SMART melalui PMKI diharapkan memperkuat kapasitas guru dan tenaga kesehatan dalam merespons kebutuhan kesehatan mental anak dan remaja secara lebih sistematis. Kolaborasi antarsekolah dan Puskesmas juga menjadi fondasi bagi terbentuknya jejaring dukungan yang memungkinkan hasil skrining diterjemahkan ke dalam langkah tindak lanjut yang nyata.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Skrining kesehatan mental di sekolah dapat membantu mengenali lebih dini berbagai persoalan psikososial yang dialami anak dan remaja. Tantangannya, hasil skrining memerlukan sistem tindak lanjut yang jelas agar proses identifikasi dapat terhubung dengan dukungan, pemantauan, hingga layanan kesehatan sesuai kebutuhan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin melalui Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) mengimplementasikan MY-SMART, sebuah model tindak lanjut berjenjang bagi hasil skrining kesehatan anak dan remaja. Kegiatan bertajuk “MY-SMART: Implementasi Model Tindak Lanjut Berjenjang Skrining Anak-Remaja Program CKG Sekolah melalui Scorecard, Peer Support, dan Jalur Krisis Terintegrasi” ini berlangsung di Al-Biruni Mandiri Senior and Junior High School, Jumat (14/8).

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ariyanti sebagai narasumber sekaligus memperkenalkan pendekatan yang dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara lingkungan sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga : Unhas Migrant Service Center Buka Kelas Migrant Batch 1

“Melalui MY-SMART, kami mendorong agar hasil skrining tidak berhenti pada tahap menemukan atau mengidentifikasi masalah. Harus ada mekanisme tindak lanjut yang jelas, mulai dari pemantauan, dukungan di lingkungan sekolah, hingga rujukan ketika anak atau remaja membutuhkan penanganan lebih lanjut,” jelas Prof. Ariyanti.

Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas guru dan petugas kesehatan dari sejumlah sekolah dan Puskesmas mengikuti kegiatan tersebut. Satuan pendidikan yang terlibat meliputi SD, SMP, dan SMA Islam Terpadu Al Biruni Mandiri, SD Minasa Upa, serta SMA 14 Gowa. Sementara dari sektor layanan kesehatan, kegiatan melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas Somba Opu, Puskesmas Kassi-Kassi, Puskesmas Minasa Upa, dan Puskesmas Paccelekang.

Menurut Prof. Ariyanti, keterlibatan dua unsur tersebut penting karena persoalan kesehatan mental anak dan remaja membutuhkan respons yang tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Sekolah memiliki ruang interaksi sehari-hari dengan peserta didik, sementara tenaga kesehatan memiliki peran dalam memastikan kebutuhan yang lebih spesifik dapat ditangani melalui layanan yang sesuai.

Baca Juga : Luruskan Miskomunikasi, Unhas Pastikan Mahasiswa Difabel Dapat Kebijakan Hunian Khusus Selama Renovasi

MY-SMART mengembangkan tiga komponen utama, yakni scorecard, peer support, dan jalur krisis terintegrasi. Scorecard digunakan sebagai instrumen untuk membantu pemantauan dan penentuan tindak lanjut. Sementara peer support memperkuat dukungan awal melalui lingkungan teman sebaya, sedangkan jalur krisis terintegrasi disiapkan untuk memastikan adanya koordinasi dan rujukan bagi kondisi yang membutuhkan respons lebih cepat.

“Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, tindak lanjut perlu dilakukan secara berjenjang dan proporsional. Ada kondisi yang dapat didukung melalui pemantauan dan penguatan lingkungan sekolah, tetapi ada pula yang memerlukan keterlibatan tenaga kesehatan dan mekanisme rujukan,” ujar Prof. Ariyanti.

Selain pemaparan materi, peserta mengikuti simulasi role play dengan berbagai skenario yang dapat ditemukan di lingkungan sekolah. Melalui simulasi tersebut, guru dan tenaga kesehatan mempraktikkan cara merespons hasil skrining, memberikan dukungan awal, mengoptimalkan peran teman sebaya, hingga melakukan koordinasi ketika ditemukan kondisi yang memerlukan tindak lanjut.

Baca Juga : Hilirisasi Riset FKM Unhas Berdayakan Penyandang Diabetes melalui Inovasi Jus Belimbing Wuluh Bernilai Ekonomi

Diskusi interaktif turut membuka ruang bagi peserta untuk membahas pengalaman dan tantangan dalam pelaksanaan skrining kesehatan anak dan remaja. Pertukaran pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya komunikasi antarpihak, terutama dalam membangun alur pemantauan dan rujukan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Implementasi MY-SMART melalui PMKI diharapkan memperkuat kapasitas guru dan tenaga kesehatan dalam merespons kebutuhan kesehatan mental anak dan remaja secara lebih sistematis. Kolaborasi antarsekolah dan Puskesmas juga menjadi fondasi bagi terbentuknya jejaring dukungan yang memungkinkan hasil skrining diterjemahkan ke dalam langkah tindak lanjut yang nyata.

Melalui pendekatan ini, sekolah diharapkan memiliki sistem yang lebih responsif terhadap persoalan psikososial, sekaligus memastikan anak dan remaja memperoleh dukungan sesuai tingkat kebutuhannya. Upaya tersebut turut mendukung penguatan kesehatan dan kesejahteraan anak serta remaja yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

#Universitas Hasanuddin