RAKYATKU. COM, MAKASSAR– Pemerintah Kota Makassar menegaskan bahwa rangkaian 6th Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026 tidak boleh sekadar menjadi ajang pameran potensi daerah atau seremoni kebudayaan semata. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menetapkan target tinggi agar seluruh penjajakan peluang ekonomi yang ditawarkan kepada 28 negara sahabat harus berujung pada kesepakatan bisnis yang konkret dan menguntungkan bagi daerah.
Strategi ini melangkah ke tahap krusial melalui pelaksanaan forum bisnis intensif yang dirancang untuk mempertemukan kepentingan korporasi global dengan keunggulan komparatif Sulawesi Selatan.
Target 'Deal' dan Akses Pasar Global via KIMA hingga Sektor Pariwisata
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan harapan positifnya agar kehadiran para duta besar mampu melihat lanskap potensi Makassar dan Sulawesi Selatan secara utuh. Ia menjamin bahwa iklim investasi ke depan akan berjalan dengan aman, baik, dan nyaman.
Lebih lanjut, Munafri menekankan pentingnya hasil akhir yang nyata dari forum bisnis ini.
"Ke depannya, hal ini akan kita lanjutkan melalui forum bisnis secara detail antara kita dengan mereka untuk memastikan bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan ini tidak hanya mengekspos apa yang menjadi keunggulan-keunggulan daerah, tetapi juga harus deal di ujungnya. Harus ada sesuatu yang konkret untuk kita kerjasamakan," tegas Munafri.
Baca Juga : Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026 Perkuat Posisi Makassar sebagai Gerbang Indonesia Timur
Sejumlah aset strategis daerah disiapkan untuk membuka akses pasar internasional yang masif, di antaranya adalah keterlibatan PT Bomar dan Kawasan Industri Makassar (KIMA). Komoditas unggulan ini dinilai masih membutuhkan penetrasi ke pasar-pasar global yang lebih besar. Selain industri manufaktur dan pengolahan, Pemkot Makassar juga menawarkan portofolio investasi di sektor eco-tourism, sport tourism, hingga proyek pembangunan infrastruktur kota yang membutuhkan dukungan (supporting) dari negara-negara mitra.
Secara khusus, Makassar menawarkan potensi investasi kepulauan. Gugusan pulau, laut, dan keindahan alam yang letaknya tidak jauh dari pusat kota dinilai menjadi nilai tambah (advantage) yang kompetitif untuk dikembangkan oleh investor asing.
Skema Sister City Bergulir: 8 Negara Siap Bertemu Intensif
Baca Juga : Kota Makassar Terima Penghargaan Dunia WRI Ross Center Prize
Respons positif langsung ditunjukkan oleh para delegasi asing. Munafri mengungkapkan bahwa para utusan negara sahabat sangat mengapresiasi tata kelola acara yang membuka ruang kemitraan secara transparan, di samping kekaguman mereka terhadap kekayaan kuliner lokal.
Sebagai langkah konkret, pola kerja sama internasional ini akan diinisiasi melalui skema Sister City. Munafri membocorkan bahwa proses negosiasi mendalam sudah mulai berjalan.
"Sudah ada 8 negara yang akan bertemu langsung untuk mendetailkan apa saja yang menjadi poin kerja sama di antara kita. Hal ini akan kita tindak lanjuti secepatnya untuk memastikan bahwa dari hasil forum bisnis ini sudah menghasilkan sebuah kesepakatan yang konkret," tambahnya.
Baca Juga : 28 Negara Hadir di Makassar, IGS 2026 Jadi Panggung Diplomasi, Investasi dan Promosi Indonesia Timur
Kemenlu Siap Kawal Hasil Forum Lewat 131 Perwakilan RI di Luar Negeri
Komitmen lokal Pemkot Makassar ini mendapat pengawalan penuh secara vertikal dari pemerintah pusat. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (Dirjen IDP) Kementerian Luar Negeri RI, R. Heru Hartanto Subolo, memberikan apresiasi tertinggi atas kepemimpinan Wali Kota Makassar yang berhasil mendatangkan 28 perwakilan asing.
Heru menjelaskan bahwa Gastrodiplomacy Series merupakan powerful tools dalam taktik soft power diplomacy Indonesia. Meja makan menjadi instrumen efektif untuk menyatukan ragam budaya sekaligus menjembatani promosi pariwisata, perdagangan, hingga investasi.
Baca Juga : Masuk Daftar Best Place to Invest, Appi Paparkan Makassar Sebagai Pusat Pertumbuhan Indonesia Timur
Kemenlu RI memastikan bahwa kerja sama yang lahir di Makassar tidak akan menguap begitu saja. Pengawalan ketat akan dilakukan secara berkelanjutan melalui jalur diplomatik resmi.
"Kementerian Luar Negeri akan menindaklanjuti dan mengawal hasil dari acara ini melalui komunikasi intensif dengan perwakilan mereka yang ada di Jakarta, dan juga dengan 131 perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Jadi, langkah kita tidak berhenti saat ini saja, tetapi kita akan kawal terus," ujar Heru Subolo.
Heru menegaskan bahwa tolok ukur utama dari keberhasilan diplomasi modern bukan lagi sekadar penandatanganan berkas di meja perundingan, melainkan dampak ekonomi riil yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Baca Juga : Masuk Daftar Best Place to Invest, Appi Paparkan Makassar Sebagai Pusat Pertumbuhan Indonesia Timur
"Kesuksesan Makassar adalah kesuksesan Sulawesi Selatan, dan juga kesuksesan Indonesia. Diplomasi tidak berhenti pada perundingan saja, tetapi yang paling penting adalah bagaimana dampaknya bagi masyarakat. Hal inilah yang akan kami lakukan," pungkasnya.
