Senin, 25 Mei 2026 23:10

OJK Laporkan Kinerja Jasa Keuangan Sulawesi Selatan Tumbuh Positif di Triwulan I 2026

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mengonfirmasi bahwa stabilitas dan kinerja sektor jasa keuangan di wilayah ini tetap solid sepanjang Triwulan I 2026.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mengonfirmasi bahwa stabilitas dan kinerja sektor jasa keuangan di wilayah ini tetap solid sepanjang Triwulan I 2026.

Kantor OJK Sulsel Sulbar melaporkan performa keuangan Sulawesi Selatan Triwulan I 2026 tumbuh positif. Sektor perbankan, syariah, dan pasar modal tunjukkan ekspansi kuat.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan tren ekspansi yang semakin kuat pada awal tahun ini. Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mengonfirmasi bahwa stabilitas dan kinerja sektor jasa keuangan di wilayah ini tetap solid sepanjang Triwulan I 2026.

Sinergi yang positif antara sektor perbankan, pasar modal, hingga Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) berhasil menjadi katalisator utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi regional. Buktinya, pada Triwulan I 2026, akumulasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sukses bertengger di angka 6,88 persen (year-on-year/yoy), mencatatkan kenaikan signifikan dibanding periode yang sama di tahun 2025 yang sebesar 5,78 persen (yoy).

Perbankan Konvensional Stabil, Sektor Syariah Melesat Tinggi

Baca Juga : BEI Bidik Pekerja Aviasi, Perkuat Literasi Investasi untuk Hadapi Masa Pensiun dan Cegah Investasi Ilegal

Hingga posisi Maret 2026, peta jalan industri perbankan di Sulawesi Selatan menorehkan kurva pertumbuhan yang menjanjikan pada tiga indikator utama: aset, penghimpunan dana, dan penyaluran kredit.

Total Aset & DPK: Aset perbankan tumbuh 4,12 persen (yoy) mencapai Rp213,44 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) merangkak naik 7,33 persen (yoy) ke angka Rp147,41 triliun, dengan dominasi instrumen tabungan yang memegang pangsa pasar (share) sebesar 61,45 persen.

Injeksi Kredit: Penyaluran kredit perbankan terkerek 5,19 persen (yoy) menjadi Rp174,39 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan Maret 2025 yang berada di level 3,76 persen. Kredit konsumtif melonjak naik hingga 8,00 persen (yoy), sedangkan porsi kredit produktif mendominasi sebesar 52,69 persen—di mana sektor perdagangan besar dan eceran menyerap porsi terbesar (22,00 persen). Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) pun tetap terkendali dengan aman di posisi 3,73 persen dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 118,30 persen.

Baca Juga : OJK Perketat Industri Pasar Modal, Dua Aturan Baru Siap Ubah Peta Perusahaan Efek dan Manajer Investasi

Di sisi lain, lompatan besar justru diperlihatkan oleh sektor Perbankan Syariah. Walau secara agregat pangsa pasarnya masih berada di bawah bank konvensional, penetrasi bank syariah di Sulsel mengalami akselerasi luar biasa.

Aset syariah melesat tajam 30,18 persen (yoy) menjadi Rp22,82 triliun pada Maret 2026. Tren pembiayaan syariah juga melonjak 24,16 persen (yoy) menjadi Rp18,54 triliun dengan kualitas pembiayaan yang sangat prima, tercermin dari rasio Non-Performing Financing (NPF) yang hanya menyentuh angka 1,77 persen. Penguatan ini mendongkrak market share aset perbankan syariah dari kisaran 7 persen pada 2023 menjadi 10,69 persen di kuartal pertama tahun ini.

Kredit UMKM Didominasi Wong Cilik, Sektor Pergadaian Meroket

Baca Juga : OJK: Perbankan Syariah Nasional Melaju Kuat, Aset Tembus Rp1.061 Triliun

Penyaluran kredit untuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung penggerak ekonomi kerakyatan di Sulawesi Selatan. Porsi pembiayaan UMKM menyumbang 36,17 persen dari total kredit hulu, atau setara dengan Rp61,80 triliun yang dialokasikan kepada 904.255 debitur.

Secara segmentasi skala usaha, porsi kredit UMKM masih berpusat pada pelaku usaha di tingkat akar rumput:

Segmen Usaha Mikro: Mendominasi mutlak dengan pangsa sebesar 56,88 persen.

Baca Juga : OJK Jadikan Rebalancing MSCI Momentum Perkuat Reformasi dan Integritas Pasar Modal Indonesia

Segmen Usaha Kecil: Memiliki porsi sebesar 28,41 persen.

Segmen Usaha Menengah: Mengisi sisa ceruk pasar sebesar 14,71 persen.

Sementara itu, pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), dinamika pertumbuhan juga bergerak variatif. Industri Pergadaian mencatatkan rekor pertumbuhan tertinggi dengan lonjakan masif sebesar 61,08 persen (yoy), menyentuh angka total pembiayaan Rp12,57 triliun. Fenomena ini mempertegas peran gadai sebagai alternatif pendanaan instan bagi publik dan pelaku usaha harian.

Baca Juga : OJK Luncurkan PINTAR Reksa Dana, Dorong Generasi Muda Mulai Investasi Terencana

Sektor penunjang digital seperti Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending ikut mengekspansi pasar dengan mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp2,52 triliun atau tumbuh agresif hingga 32,26 persen (yoy).

Anak Muda Sulsel Serbu Pasar Modal via Reksa Dana

Gairah investasi masyarakat urban di Sulawesi Selatan juga terpantau mengalami peningkatan yang radikal. Indikator ini dibuktikan lewat pertumbuhan jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) yang menembus angka 525.596 SID, alias meroket sebesar 57,63 persen (yoy) per posisi Maret 2026.

Baca Juga : OJK Luncurkan PINTAR Reksa Dana, Dorong Generasi Muda Mulai Investasi Terencana

Berdasarkan diversifikasi portofolio efek, instrumen Reksa Dana menjadi primadona utama masyarakat lokal dengan mencatatkan pertumbuhan investor tertinggi, yakni sebesar 58,23 persen (yoy). Karakteristik reksa dana yang likuid, mudah diakses melalui platform digital, serta ramah bagi modal ritel pemula menjadikannya opsi paling memikat bagi masyarakat dalam menyisihkan dana jangka panjang.

GENCARKAN Edukasi Guna Perangi Kejahatan Keuangan Siber

Menyadari pesatnya adopsi keuangan digital yang rawan dibayangi oleh risiko penipuan, OJK Provinsi Sulsel Sulbar mengambil langkah preventif yang ofensif. Sepanjang periode Januari hingga April 2026, regulator telah menggelar sedikitnya 137 agenda edukasi keuangan secara tatap muka maupun daring, menjangkau total 1.607.348 peserta di berbagai kabupaten/kota.

Baca Juga : OJK Luncurkan PINTAR Reksa Dana, Dorong Generasi Muda Mulai Investasi Terencana

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengonfirmasi bahwa mulai Mei hingga Agustus 2026, fokus kerja edukasi akan diintensifkan melalui Kampanye Nasional Gerakan Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dengan tajuk khusus: “Cerdas Literasi Keuangan Digital, Hidup Sejahtera Menuju Indonesia Emas”.

“Program ini merupakan upaya strategis untuk menaikkan level kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman aktivitas keuangan ilegal yang bergerak masif di ruang digital,” urai Muchlasin dalam dokumen rilisnya.

Sebagai langkah awal, OJK telah melaksanakan program Kick-off Bulan Literasi Keuangan 2026 di SMA Negeri 1 Makassar yang membekali 150 pelajar dengan pemahaman manajemen finansial sejak dini sekaligus taktik menghindari jebakan siber finansial ilegal.

Baca Juga : OJK Luncurkan PINTAR Reksa Dana, Dorong Generasi Muda Mulai Investasi Terencana

Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan informasi, pengaduan sengketa keuangan formal, atau permohonan pengecekan SLIK, OJK Sulsel Sulbar membuka akses pelayanan terintegrasi di kantor perwakilan atau memantau panduan edukasi berkala melalui akun Instagram resmi mereka di @ojk_sulselsulbar

#OJK Sulsel Sulbar #Ekonomi Sulawesi Selatan #perbankan syariah #Kredit UMKM #pasar modal #dana pensiun #Fintech P2PL #Moch Muchlasin