RAKYATKU. COM, JAKARTA — Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan impresif sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal I 2026. Capaian ini menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III 2022 dan menunjukkan daya tahan konsumsi domestik di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.
Analisis terbaru yang dirilis Permata Institute for Economic Research (PIER) menyebutkan pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga, percepatan belanja pemerintah, serta investasi yang relatif resilien. Namun, di balik pertumbuhan tinggi tersebut, terdapat sejumlah tantangan struktural yang dinilai perlu diwaspadai.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan penguatan ekonomi domestik belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental yang merata di seluruh sektor.
Baca Juga : Pertamina Tambah 392 Ribu Tabung LPG 3 Kg di Sulawesi, Antisipasi Lonjakan Konsumsi Saat Long Weekend
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati,” ujar Josua dalam
Sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen YoY, meningkat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 5,11 persen. Momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan belanja masyarakat, didukung membaiknya indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel pada Maret 2026.
Sementara itu, investasi yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih tumbuh 5,96 persen YoY meski sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya. Aktivitas investasi dinilai tetap solid terutama pada sektor bangunan dan proyek strategis pemerintah.
Baca Juga : Summarecon Mall Makassar Masuk Tahap Konstruksi Utama, Siap Jadi Magnet Ekonomi Baru Indonesia Timur
Di sisi fiskal, percepatan belanja pemerintah menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Belanja pemerintah melonjak hingga 21,31 persen YoY, didorong realisasi program prioritas nasional termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, sektor eksternal masih menghadapi tekanan. Pertumbuhan ekspor tercatat hanya 0,90 persen YoY akibat meningkatnya ketidakpastian global, sedangkan impor tumbuh 3,22 persen sejalan dengan kebutuhan bahan baku industri domestik.
PIER menilai dominasi konsumsi dan stimulus fiskal menunjukkan mesin pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya bertumpu pada ekspansi investasi swasta yang berkelanjutan. Sebagian dorongan pertumbuhan masih bersifat musiman dan berbasis kebijakan jangka pendek.
Baca Juga : OJK Sebut Tren Penurunan Suku Bunga Kredit Masih Berlanjut
Secara sektoral, industri akomodasi serta makanan dan minuman menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 13,14 persen YoY. Pertumbuhan juga terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan, didorong meningkatnya mobilitas masyarakat.
Namun, industri pengolahan sebagai tulang punggung ekonomi nasional justru mengalami moderasi pertumbuhan menjadi 5,04 persen YoY. Sektor pertambangan juga masih tertekan akibat pengendalian produksi sejumlah komoditas mineral utama.
Dari sisi regional, wilayah Sulawesi menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional dengan pertumbuhan mencapai 6,95 persen YoY, ditopang kuatnya aktivitas industri manufaktur. Jawa tumbuh 5,79 persen, sementara Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,93 persen YoY.
Baca Juga : KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif, pasar tenaga kerja dan manufaktur menunjukkan sinyal kehati-hatian. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 tercatat 4,68 persen dengan peningkatan jumlah pekerja paruh waktu dan penurunan tipis proporsi pekerja formal.
Tekanan juga terlihat pada sektor manufaktur. PMI manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026 yang menandakan kontraksi aktivitas industri akibat kenaikan biaya input dan melemahnya optimisme pelaku usaha.
Di pasar keuangan, arus modal asing masih menunjukkan tekanan. Investor asing tercatat melakukan arus keluar bersih sekitar USD 1,79 miliar dari pasar domestik sepanjang kuartal I 2026 akibat kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah, harga energi, dan ketidakpastian geopolitik global.
Baca Juga : Bea Cukai Sulbagsel Bongkar 43 Juta Rokok Ilegal dan Ribuan Liter Miras Dimusnahkan
PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan berada pada kisaran 5,1–5,3 persen dengan konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama. Namun kualitas pertumbuhan dinilai perlu menjadi perhatian serius agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya kuat secara statistik, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja formal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
TAG
- #ekonomi indonesia
- #PDB Indonesia
- #Permata Bank
- #PIER
- #konsumsi domestik
- #investasi
- #manufaktur
- #pasar keuangan
- #pertumbuhan ekonomi
- #Josua Pardede
- #sektor industri
- #ekonomi global
- #Sulawesi
- #APBN
- #bank Indonesia