Kamis, 07 Mei 2026 22:15

KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap terjaga sepanjang triwulan I 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap terjaga sepanjang triwulan I 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

KSSK memastikan kondisi sistem keuangan Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian global dan konflik Timur Tengah, didukung sinergi kebijakan antarotoritas.

RAKYATKU.COM, JAKARTA — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap terjaga sepanjang triwulan I 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. 

Dalam siaran pers hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026, KSSK menyebut volatilitas pasar keuangan global meningkat seiring gangguan rantai pasok dan lonjakan harga energi dunia yang dipicu konflik geopolitik. Meski demikian, stabilitas sistem keuangan Indonesia dinilai masih berada dalam kondisi aman berkat koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas.

KSSK yang terdiri dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan menyatakan akan terus melakukan asesmen forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan global maupun domestik. 

Baca Juga : OJK Perkuat Daya Saing Perbankan Syariah, Produk Investasi Kini Diatur Lebih Ketat dan Transparan

KSSK menilai perekonomian dunia menghadapi tekanan yang semakin besar. Dana Moneter Internasional atau IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat menjadi 3,1 persen dari 3,4 persen pada 2025. Sementara inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4 persen. Kondisi tersebut mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk peluang penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Funds Rate. 

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,39 persen yoy. 

Kinerja tersebut ditopang oleh percepatan belanja pemerintah, meningkatnya konsumsi rumah tangga, serta pertumbuhan investasi. Pemerintah disebut memperkuat belanja prioritas melalui sejumlah program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat yang memberikan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Baca Juga : OJK Jatuhkan Sanksi ke Indosaku, Denda Rp875 Juta Terkait Pelanggaran Penagihan

Selain itu, investasi juga mengalami pertumbuhan positif seiring mulai berjalannya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur pendukung program prioritas pemerintah. Aktivitas manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi, pertumbuhan penjualan ritel, dan berlanjutnya surplus neraca perdagangan turut memperkuat fondasi ekonomi domestik. 

KSSK juga menyoroti efektivitas koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan. Hal itu tercermin dari pertumbuhan uang primer serta biaya dana perbankan yang semakin efisien. 

Ke depan, KSSK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi kebijakan dan mitigasi risiko guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

#KSSK #ekonomi indonesia #stabilitas keuangan #bank Indonesia #OJK #lps #kementerian keuangan #ekonomi global #inflasi #perbankan nasional