RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Transformasi kawasan Mal Ratu Indah (MaRI) resmi memasuki fase baru. KALLA melalui unit bisnis propertinya memulai pembangunan kawasan mixed-use yang mengintegrasikan fungsi komersial, hunian, hingga gaya hidup dalam satu ekosistem perkotaan.
Ground breaking yang digelar di area eks Hotel Sahid menjadi penanda dimulainya tahap awal proyek strategis tersebut. Pengembangan ini tidak hanya berorientasi pada ekspansi fisik, tetapi juga sebagai langkah repositioning MaRI agar tetap relevan di tengah perubahan tren properti dan gaya hidup urban.
CEO KALLA, Solihin Jusuf Kalla, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat portofolio properti sekaligus menjaga daya saing aset eksisting.
Baca Juga : Aston Makassar dan BRI Kolaborasi CSR, 60 Kantong Darah Terkumpul Jelang HUT ke-14
“MaRI bukan sekadar pusat perbelanjaan, tetapi destinasi yang harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Pengembangan ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutannya,” ujarnya.
Dari perspektif makro, proyek ini dinilai memiliki multiplier effect terhadap perekonomian daerah. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menilai pengembangan kawasan ini berpotensi mendorong penyerapan tenaga kerja sekaligus memperkuat posisi Makassar sebagai pusat pertumbuhan di Indonesia Timur.
“Pengembangan ini akan memberi dampak nyata terhadap ekonomi kota, terutama dari sisi lapangan kerja dan aktivitas bisnis baru,” katanya.
Baca Juga : PINTU Masuk Kampus, Edukasi Crypto ke Mahasiswa UNM di Tengah Maraknya Informasi Menyesatkan
Secara konsep, proyek MaRI dirancang dalam dua tahap. Tahap pertama difokuskan pada penguatan infrastruktur dasar, termasuk pengembangan area parkir sebagai penopang peningkatan kapasitas kawasan. Sementara tahap kedua akan mengarah pada ekspansi area ritel dengan skala yang setara dengan mal eksisting, menghadirkan konsep yang lebih modern dan terintegrasi.
Salah satu diferensiasi utama proyek ini adalah integrasi hunian vertikal. Pengembang merancang apartemen setinggi 10 lantai dengan kapasitas sekitar 230 unit, dilengkapi fasilitas parkir khusus serta ballroom di area rooftop. Skema ini mencerminkan tren pengembangan properti urban yang mengedepankan efisiensi ruang dan konektivitas fungsi.
Proyek ini ditargetkan rampung pada 2028, setelah melalui proses perencanaan komprehensif selama dua tahun, termasuk kajian teknis, desain arsitektur, hingga penataan kawasan.
Baca Juga : Elektrifikasi Digenjot, BYD Haka Dorong EV Jadi Pilar Baru Ekonomi dan Ketahanan Energi
Dari sisi keberlanjutan, MaRI juga telah mengantongi sertifikasi bangunan hijau Greenship dengan peringkat Gold, serta Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan tidak hanya berorientasi pada ekspansi bisnis, tetapi juga pada standar lingkungan dan keamanan operasional.
Dengan kombinasi fungsi komersial, hunian, dan ruang publik, proyek ini diharapkan mampu menciptakan pusat aktivitas baru di Makassar. Lebih dari itu, pengembangan MaRI menjadi sinyal bahwa sektor properti di Indonesia Timur masih memiliki ruang pertumbuhan yang kuat, seiring meningkatnya urbanisasi dan kebutuhan gaya hidup modern.