Selasa, 19 April 2022 17:53

Kasus Bilyet Giro Deposito Fiktif Pegawai Bank BNI, Terdakwa Dituntut Pidana Penjara 12 Tahun

Syukur Nutu
Konten Redaksi Rakyatku.Com
sidang (dok.Penkum Kejati)
sidang (dok.Penkum Kejati)

dan denda sebesar Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah)

RAKYATKU.COM - Sidang perkara Bilyet Giro Deposito Fiktif pegawai Bank BNI kembali dilanjutkan hari ini, Selasa 19 April 2022 di Pengadilan Negeri Makassar.

Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim Farid Hidayat Sopomena dan Franklin.

Sidang dilanjutkan dengan agenda Pembacaan Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap tedakwa Melati Bunga Sombe.

Baca Juga : Putusan Majelis Hakim PN Makassar Haruskan PT Zarindah Ganti Rugi Rp285 Miliar kepada PT Osos

Kasi Penkum Kejati SulSel, Soe Tarmi mengatakan terdakwa Melati sebagai pegawai bank BNI sejak tahun 2003. Pada sekitar Tahun 2016 saat menjabat sebagai CRO (costumer relation officer) di Kantor Petikemas Makassar terdakwa mengambil bilyet giro deposito asli yang masih kosong bernomor seri: PAB 0377567,

"Namun terdakwa tidak mencatatkan dengan catatan yang lengkap pada buku register bilyet deposito perbankan," katanya.

Kemudian, sekitar bulan Desember 2019 terdakwa menawarkan deposito di Bank BNI kepada Nasabah Prioritas/ Emerald diantaranya Rocky Yonatan (saksi), Annawaty (istri Rocky Yonatan/saksi), Hendrik (saksi) dan Andi Idris Manggabarani dengan menjanjikan bunga 8,25% hingga akhirnya para nasabah prioritas tersebut menyetujui untuk mendepositokan uangnya ke BNI melalui terdakwa.

 

"Karena sudah sangat percaya kepada terdakwa sebagai pegawai BNI yang ditugaskan untuk melayani transaksi keuangan para nasabah Emerald tersebut, maka pada saat melengkapi proses administrasi deposito, para nasabah Emerald tersebut tidak pernah datang ke kantor Bank BNI tetapi proses penandatanganan administrasi pembukaan deposito dilakukan para nasabah dirumah masing-masing dihadapan terdakwa sebagai pegawai bank BNI," tambahnya.

Baca Juga : 13 Terdakwa Korupsi Pembangunan Puskesmas Batua Makassar Divonis

Terdakwa, lanjut Soe Tarmi mengarahkan saksi Rocky Yonatan, Andi Idris Manggabarani dan Hendrik untuk membuat dan menyerahkan rekening tabungan BNI serta para Nasabah telah menyetorkan sejumlah uang pada rekening-rekening yang telah dibuat sesuai arahan terdakwa.

Sponsored by MGID

"Kemudian terdakwa membuat bilyet giro deposito fiktif dengan cara memfotokopi berwarna bilyet giro deposito asli bernomor: PAB 0377568 sehingga menyerupai bilyet giro asli dan diserahkan kepada saksi Rocky Yonatan, Annawaty, Andi Idris Manggabarani, dan Hendrik, yang telah menyetorkan sejumlah uang sesuai dengan nominal yang tertera pada bilyet giro deposito palsu tersebut," jelasnya.

Kepada Nasabah Atas nama Hendrik sejumlah empat Bilyet deposito dengan total nominal sejumlah Rp. 20.100.000.000 (Dua puluh milyar seratus juta rupiah).

Baca Juga : 11 Orang Positif Covid-19, Pengadilan Negeri Makassar Lockdown

Kepada nasabah Atas nama Andi Idris Manggabarani sejumlah enam bilyet deposito dengan total nominal sejumlah Rp. 45.000.000.000 (Empat puluh lima milyar rupiah). 

Kepada nasabah Atas nama Rocky Yonatan sejumlah satu bilyet deposito dengan total nominal sejumlah Rp.30.000.000.000,- (Tiga puluh milyar rupiah). 

Kepada nasabah Atas nama Annawaty sejumlah satu bilyet deposito dengan total nominal sejumlah Rp.20.000.000.000,- (Dua puluh milyar rupiah).

Baca Juga : Keberatan Dakwah Jaksa, Erwin Hatta Ajukan Penangguhan Penahanan

"Pada kenyataannya dana Nasabah Emrald tersebut diatas bukannya terdakwa masukkan kedalam rekening Deposito sesuai dengan bilyet deposito yang diserahkan kepada para Nasabah namun justru menempatkan dana nasabah tersebut kedalam rekening tabungan (Taplus biasa) atas nama nasabah masing-masing tanpa sepengetahuan atau tanpa persetujuan para nasabah tersebut, sehingga baik buku tabungan maupun ATM nya dikuasai oleh terdakwa," beber Soe Tarmi.

Terdakwa sebut Soe Tarmi, merekrut ST. Zahniar (dilakukan penuntutan terpisah) yang merupakan eks karyawan BNI Life untuk menjadi karyawan terdakwa diperusahaan milik terdakwa yaitu PT. Palesan Cahaya Kinaya. Terdakwa kemudian memerintahkan saksi ST. Zahniar alias Niar untuk membuka Rekening Giro Bank Mandiri KC Samratulangi Makassar dan Rekening Bank BNI atas nama St. Zahniar.

Terdakwa juga menyuruh saksi Rahmad(dilakukan penuntutan secara terpisah) untuk membuka lima rekening yaitu tiga rekening pada bank BNI dan dua rekening pada bank BRI.

Baca Juga : JPU Yakin Korupsi RS Batua Terbukti, Pengacara: Klien Kami Tidak Terlibat Langsung

"Kemudian terdakwa memerintahkan ST. Zahniar untuk mengurusi pembukaan rekening dan transaksi-transaksi keuangan dengan menggunakan slip transaksi perbankan yang ditandatangani saksi Rahmad (dilakukan penuntutan secara terpisah)," sebut Soe Tarmi.

Soe Tarmi menyebut, terdakwa kemudian memerintahkan ST. Zahniar juga melakukan pembukaan rekening fiktif Atas Nama Inrayani(merupakan staf Andi Idris Manggabarani bagian keuangan), Atas nama PT ANUGERAH ASET UTAMA (perusahaan milik Andi Idris Manggabarani) dan Atas nama ANDI RAHMAT MANGGABARANI (Anak kandung Andi Idris Manggabarani) yang dibuat di beberapa Kantor Cabang Utama Bank BNI dan Kantor Cabang Pembantu di Makassar dan tanpa seijin para nasabah tersebut.

"Setelah menyiapkan rekening-rekening fiktip dan rekening penampungan tersebut terdakwa secara berulang kali memerintahkan ST. Zahniar untuk melakukan transaksi keuangan dari rekening tabungan Rocky Yonatan, Annawaty, Andi Idris Manggabarani, Hendrik dan Heng Pao Tek serta dari rekening-rekening penampungan," katanya.

Baca Juga : JPU Yakin Korupsi RS Batua Terbukti, Pengacara: Klien Kami Tidak Terlibat Langsung

Transaksi tersebut lanjut Soe Tarmi dijalankan oleh Terdakwa dan ST. Zahniar dengan cara terdakwa memberikan St. Zahniar slip penarikan kosong yang sudah tertandatangani dari para nasabah dengan lampiran surat kuasa fiktif dari para nasabah, bersamaan dengan itu terdakwa juga memberikan slip setoran yang jumlahnya disesuaikan dengan nominal uang yang tertera pada slip penarikan dan dalam slip setoran tersebut ditandatangani oleh Zahniar selaku penyetor dan dana-dana tersebut disetorkan ke rekening penampungan maupun rekening fiktif yang dibuat oleh terdakwa sesuai keinginan terdakwa.

"Serta terdakwa memerintahkan ST. Zahniar mempersiapkan kuasa penarikan atau penyetoran atau kuasa atas jasa perbankan lainnya lengkap dengan pembubuhan tanda tangan pemberi kuasa, penerima kuasa, meterai, maupun data keterangan lain diisi dan dimanipulasi guna memenuhi hal-hal yang diperlukan agar transaksi keuangan tersebut berhasil dijalankan, meskipun tidak sepengetahuan dari para nasabah tersebut," katanya.

Atas perbuatan terdakwa mengakibatkan kerugian materil bagi para nasabah emerald tersebut diatas. Telah ditemukan asset-asset atau harta yang dimiliki atau dikuasai oleh terdakwa. Asset/harta milik terdakwa tersebut telah disita sebagai barang bukti demi mengganti kerugian para korban;

Baca Juga : JPU Yakin Korupsi RS Batua Terbukti, Pengacara: Klien Kami Tidak Terlibat Langsung

Atas perbutan tersebut, JPU dalam tuntutannya menyatakan terdakwa Melati Bunga Sombe terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Dakwaan Primair Pasal 49 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP. Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

"Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Melati Bunga Sombe selama 12 tahun dikurangi masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa, dan denda sebesar Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayarkan maka diganti dengan penjara selama 6 (enam) bulan," sebut Soe Tarmi.

Baca Juga : JPU Yakin Korupsi RS Batua Terbukti, Pengacara: Klien Kami Tidak Terlibat Langsung

 

Baca Juga : JPU Yakin Korupsi RS Batua Terbukti, Pengacara: Klien Kami Tidak Terlibat Langsung

 

#Bank BNI #Bilyet Giro Deposito Fiktif #Pengadilan Negeri Makassar