Selasa, 18 Januari 2022 13:29
Foto: Reuters/Afolabi Sotunde.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - UNICEF melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis vaksin COVID-19 yang didistribusikan lewat program COVAX karena sudah hampir kedaluwarsa.

 

Ini menunjukkan meski pasokan vaksin lewat program COVAX sudah melebihi 1 miliar dosis dan distribusikan ke 150 negara, masih ada kendala dalam upaya melakukan vaksinasi penduduk di dunia.

"Lebih dari 100 juta dosis mendapat penolakan bulan Desember lalu," kata Etleva Kadilli dari UNICEF kepada para anggota parlemen Eropa dikutip dari ABC News, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga : Jenewa dan Unicef Ajak Media Ambil Peran Dalam Pencegahan Stunting

Menurutnya, alasan utama penolakan vaksinasi adalah masa berlaku atau kedaluwarsa yang hampir habis.

 

Ditambahkan oleh Etleva, negara-negara miskin juga terpaksa menunda pengiriman vaksinasi karena tidak memiliki tempat penyimpanan vaksin memadai.

UNICEF belum memberi keterangan lanjutan soal berapa jumlah dosis vaksin secara keseluruhan yang sudah ditolak negara-negara miskin.

Baca Juga : UNICEF Dukung Pemkot Makassar Entaskan Masalah Anak Tidak Sekolah

Selain penolakan pengiriman vaksin, banyak juga vaksin yang tidak digunakan, tetapi masih disimpan di negara-negara tersebut.

Data dari UNICEF soal pasokan dan pengiriman vaksin menunjukkan 681 juta dosis saat ini tidak digunakan di 90 negara miskin, seperti yang dicatat lembaga CARE.

Menurut CARE, lebih dari 30 negara yang miskin, termasuk yang memiliki penduduk besar seperti Republik Demokratik Kongo dan Nigeria, hanya menggunakan kurang dari setengah vaksin yang mereka terima.

Baca Juga : Gebyar Vaksin Covid-19, Pemkab Gowa Siapkan Doorprize Puluhan Sepeda Motor

COVAX, program global yang dikoordinasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini sudah mengirimkan 989 juta dosis vaksin ke 144 negara, menurut GAVI, aliansi vaksin yang juga menjalankan program tersebut. (*)

Sumber: ABC News