Sabtu, 11 Desember 2021 20:02
Editor : Alief Sappewali

RAKYATKU.COM,WAJO - Pembangunan daerah irigasi (DI) Bendung Gilireng di Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, belum juga menunjukkan progres signifikan.

 

Masyarakat Desa Arajang yang merasakan dampak dari lambannya progres pembangunan pun mulai kehilangan kesabaran.

Sekitar 70 orang warga Desa Arajang melakukan aksi unjuk rasa di Bendung Gilireng, dan meminta agar aktivitas dihentikan dan ditutup, Jumat (10/12/2021).

Baca Juga : Aksi Mendebarkan Pria di Wajo yang Meniti Kabel Listrik Bertegangan Tinggi Tanpa Kesetrum

Koordinator Aliansi Mahasiswa, Satria Arianto menyampaikan bahwa puluhan hektare lahan sawah dan perkebunan masyarakat Desa Arajang tergenang air sebagai dampak pembangunan Bendung Gilireng. Lahan tersebut tergenang sejak Maret sampai sekarang.

 

"Pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang agar segera melakukan ganti rugi terhadap lahan warga yang tergenang akibat dampak pembangunan," ujar Satria.

Warga mengaku telah dijanji pihak BBWSPJ di DPRD Wajo beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Berebut Sarang Burung Walet, Dua Kelompok yang Dipimpin Dua Bersaudara Nyaris Bentrok di Wajo

"Sesuai janji dari pihak balai pada 24 November 2021 disaksikan Ketua Komisi II DPRD Wajo (Sudirman Meru) akan dilakukan penetapan lokasi pada tanggal 7 sampai 9 Desember 2021," kata Satria.

Saat itu PPK berjanji akan datang memantau sekaligus mengestimasi volume kerugian masyarakat yang diakibatkan Bendung Gilireng. Namun, tak kunjung datang ke lokasi.

"Sampai hari ini tidak ada realisasi dari pihak Balai," sambung Satria.

Baca Juga : Galian Pipa Gas di Sengkang Makan Korban

Olehnya, masyarakat pun meminta agar aktivitas di bendungan terbesar di Sulsel itu dihentikan dan ditutup.

"Menghentikan segala aktivitas kegiatan Bendungan Paselloreng dan Bendung DI Gilireng selama tuntutan warga tidak dipenuhi," katanya.

Sudah tiga bulan lebih Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo meresmikan Bendungan Paselloreng dan Bendung Gilireng, di Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Baca Juga : Sudah Makan Banyak Korban, Jalan Trans Nasional di Pitumpanua Belum Dapat Perhatian

Namun, manfaat dari bendungan yang diklaim adalah terbesar di kawasan Indonesia Timur itu belum juga dirasakan masyarakat.

Malahan, masyarakat merasa tersiksa lantaran jaringan daerah irigasi (DI) belum terbangun. Sehingga, luapan air dari Bendung Gilireng malah merendam area persawahan dan perkebunan warga di Desa Arajang.

Ditambah lagi, pembangunan tanggul yang dinilai tak berfungsi maksimal. Lantaran justru menjadi penghalang air yang berada di area persawahan dan perkebunan warga.

Penulis : Abd Rasyid. MS