Rabu, 01 Desember 2021 08:44

Tampil di TvOne, Ustaz Zaitun Uraikan Seni Memimpin dengan Seutas Benang

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Tampil di TvOne, Ustaz Zaitun Uraikan Seni Memimpin dengan Seutas Benang

Kalau seni seutas benang diterapkan seorang pemimpin, maka hampir dipastikan amanlah di negara tersebut.

RAKYATKU.COM -- Seorang pemimpin bisa belajar pada Mu'awiyah bin Abi Sofyan. Dia menerapkan seni seutas benang.

Kisah kepemimpinan Mu'awiyah ini diceritakan cendekiawan muslim, Dr KH Muhammad Zaitun Rasmin Lc MA. Dia memberikan tips dalam mengelola negara.

Pimpinan ormas Islam Wahdah Islamiyah itu tampil dalam acara Catatan Demokrasi TV One bertajuk "UU Cipta Kerja Inkonstitusional tapi Tetap Berlaku" pada Selasa malam (30/11/2021).

Baca Juga : Ustaz Zaitun Rasmin: Wujudkan Indonesia Beradab dengan Kukuhkan Iman dan Dakwah

Salah satu tipsnya disampaikan di ujung acara yakni seni seutas benang.

Ustaz Zaitun mencontohkan kepemimpinan Mu'awiyah bin Abi Sofyan. Saat memimpin kaum muslimin, dia mempunyai keahlian dalam mengelola seutas benang.

"Ketika terjadi goncangan kepemimpinan di era Utsman bin Affan radiyallahu 'anhu, maka Mu'awiyah tampil menyatukan kaum muslimin. Ia mengatakan modalnya hanya seutas benang. Saya pegang di ujungnya, sementara ujung yang lain dipegang oleh rakyat saya. Jika rakyat menarik benang itu, maka saya sebagai pemimpin harus mengulurnya," urai Ustaz Zaitun.

Baca Juga : Catat Waktunya! Webinar Ketahanan Keluarga WI Sulsel Bersama Penulis dan Dai Nasional

Menurutnya, seni mengelola seutas benang agar jangan sampai putus inilah yang penting. Pemimpin harus mau mendengarkan aspirasi rakyatnya.

Sponsored by MGID

"Jika rakyat benar, maka pemimpin harus legowo mendengar. Jika rakyat yang keliru, maka bisa saja hukum ditegakkan," ujarnya.

Terkait masalah upah yang menjadi salah satu topik pembicaraan, Ustaz Zaitun berpesan agar para investor bisa menunaikan hak buruh sebagaimana mestinya.

Baca Juga : Wahdah Islamiyah Kirim Relawan Kemanusiaan untuk Bantu Korban Erupsi Gunung Semeru

Namun dalam hal ini, diperlukan kajian lebih mendalam. Sebab, tak semua perusahaan berjalan dengan normal setelah setahunan lebih dihantam pandemi.

"Rasulullah juga tidak serta merta menetapkan harga. Perlu ada kajian, pemimpin itu harus mendengarkan aspirasi di beberapa sisi. Agar kebijakan yang disampaikan bisa berlaku adil sebagaimana mestinya," urainya.

Terakhir ia menambahkan, agar rakyat tak selalu mengedepankan prasangka buruk kepada pemimpinnya.

Baca Juga : Perluas Wilayah Dakwah, Wahdah Islamiyah Kini Hadir di 219 Kota di Indonesia

Sementara bagi pemimpin, Ustaz Zaitun mengingatkan agar mereka tak membuat celah untuk munculnya prasangka buruk.

"Jangan sampai rakyat berprasangka yang tidak-tidak karena pemimpinnya selalu membuat kebijakan yang berpeluang dipasangkai buruk," pungkasnya.

 

#ustaz zaitun rasmin #Wahdah Islamiyah