Kamis, 05 Agustus 2021 21:10

Sidang Nurdin Abdullah, Hakim Heran Kesaksian Dirut Bank Sulselbar dan Sekretaris Berbeda

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar, Amri Mauraga, menjadi salah satu saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang lanjutan terdakwa Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah, Kamis (5/8/2021).
Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar, Amri Mauraga, menjadi salah satu saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang lanjutan terdakwa Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah, Kamis (5/8/2021).

Dalam kesaksiannya, Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar, Amri Mauraga, mengatakan ada bantuan corporate social responsibility (CSR) sebanyak Rp400 juta diberikan untuk pembangunan masjid di Pucak, Kabupaten Maros. Pemberian CSR itu disebut telah melewati prosedur tepat di Bank Sulselbar.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar, Amri Mauraga, menjadi salah satu saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang lanjutan terdakwa Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah, Kamis (5/8/2021).

Amri dihadirkan bersama dua saksi lainnya, yakni Chaeruddin (pengusaha SPBU asal Kabupaten Wajo) dan Rudhy Mora (pengusaha sekaligus pemilik PT Karya Baru Tinumbu). Ketiganya memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan yang dipimpin Ibrahim Palino sebagai hakim ketua.

Dalam kesaksiannya, Amri mengatakan ada bantuan corporate social responsibility (CSR) sebanyak Rp400 juta diberikan untuk pembangunan masjid di Pucak, Kabupaten Maros. Pemberian CSR itu disebut telah melewati prosedur tepat di Bank Sulselbar.

Baca Juga : Saksi JPU Tuntas Beri Keterangan, Kuasa Hukum: Belum Ada Dakwaan Bisa Jerat Nurdin Abdullah

"Empat ratus juta komite CSR yang usulkan dan diputuskan disetujui oleh direksi. Diputuskan seluruh direksi," kata Amri.

Sebelum menyerahkan bantuan CSR, Amri mengatakan ada pengurus pembangunan masjid yang datang ke kantornya membawa proposal bantuan. Namun, ia mengaku lupa orang yang membawa proposal tersebut.

 

"Pengurus masjid yang bawa proposal ke Bank Sulselbar. Saya lupa yang bawa," tambahnya.

Baca Juga : Tiga Belas Tahun Ikut, Eks Ajudan Tegaskan Nurdin Abdullah Tidak Pernah Terima Uang Hadiah dari Pengusaha

Dalam kesaksiannya, Amri juga membenarkan sekretarisnya pernah menerima seseorang bernama Darman untuk dibantu menyetor uang yang akan ditransfer ke rekening pembangunan masjid. Pada saat itu, mereka terlebih dahulu komunikasi melalui seluler.

Sponsored by MGID

Beranggapan bahwa Darman adalah ajudan Nurdin Abdullah saat itu, Amri memberi pelayanan khusus. Ia meminta Darman menemui sekretarisnya yang bernama Riski Angriani di lantai tiga untuk dibantu.

"Saya perintahkan naik ke atas suruh temui sekretaris karena saya tahu yang bersangkutan ajudan gubernur," tambah Amri.

Baca Juga : Keterangan Kepala Cabang Bank Mandiri Panakkukang, Terungkap Aliran Dana Suap Rp2 Miliar Nurdin Abdullah

Saat naik di lantai tiga, Darman langsung menemui Rezki yang juga satu ruangan dengan Amri. Ia mengaku saat itu melihat Darman membawa sesuatu dalam goodie bag, tetapi tidak mengetahui isinya.

"Saat (Darman) temui sekretaris tidak lihat apa yang dibawa di goodie bag. Sekretaris lalu turun bawa bantu penyetoran," sebutnya.

Kesaksian ini langsung menjadi sorotan majelis hakim yang menyebut kesaksian Amri bertentangan dengan kesaksian sekretarisnya pada sidang sebelumnya.

Baca Juga : Tanpa Sepengetahuan NA, Eks Kabiro PBJ Sulsel Sari Pujiastuti Mengaku Salah Terima Uang Kontraktor

"Keterangan saksi berbeda dengan keterangan sekretaris yang mengatakan tidak diperintah, tapi atas inisiatifnya sendiri membantu," kata hakim menyela kesaksian Amri.

Saat sekretarisnya turun membantu melakukan penyetoran, Amri menyebut mengajak Darman duduk. Sementara penyetoran semuanya dibantu oleh sekretaris. "Darman saya persilakan duduk," sebut Amri.

"Apakah begitu kewenangan sekretaris? Kenapa ada perbedaan keterangan?" timpal hakim.

Baca Juga : Hakim Ketua Sebut Ada Saksi Bohong di Sidang Kasus Nurdin Abdullah

Sebelumnya, saat bersaksi dalam sidang pada Kamis (29/7/2021), Rezki mengakui pernah menyetor secara langsung uang ke rekening yayasan pembangunan masjid kebun raya puncak.

"Iya yang mulia saya yang menyetor langsung itu uang," kata Rezki.

Majelis hakim saat itu mempertanyakan setelah menerima uang tersebut dibawa ke mana.

Baca Juga : Hakim Ketua Sebut Ada Saksi Bohong di Sidang Kasus Nurdin Abdullah

Rezky menjawabnya saat itu dirinya menyetorkan secara langsung uang tersebut ke pihak teller menggunakan data miliknya.

"Dia minta tolong disetorkan, uang itu simpan di dalam kantongan berbahan kertas, kayaknya dia sudah minta izin dengan pimpinan, saat itu saya langsung turun ke bawah untuk di setor ke teller, untuk data pengisiannya itu pakai data saya dan tanda tangan saya, Pak," tuturnya.

Adapun alasan menerima dan langsung membantu karena Reski beranggapan orang yang meminta dirinya menyetor uang itu adalah merupakan tamu pimpinan Dirut Bank Sulselbar.

Baca Juga : Hakim Ketua Sebut Ada Saksi Bohong di Sidang Kasus Nurdin Abdullah

"Karena saya kira tamu ini adalah tamunya Pak Dirut, jadi saya terima langsung dan membantu untuk menyetorkan, nomor rekening atas nama yayasan masjid," sebutnya.

Sponsored by advertnative
 
Penulis : Syukur
#Sidang Nurdin Abdullah #Kasus KPK Nurdin Abdullah