Minggu, 25 April 2021 11:04

Unik! Bukan Kertas Suara, Pemilihan Umum di Daerah Ini Gunakan Kelereng

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
petugas tps terlihat sibuk mempersiapkan pemilu | www.euronews.com
petugas tps terlihat sibuk mempersiapkan pemilu | www.euronews.com

Namun pemungutan suara pada tahun 2018 lalu adalah yang pemungutan suara yang menggunakan media kelereng untuk terakhir kalinya.

RAKYATKU.COM - Warga di negara Gambia, sisi barat Afrika melakukan pemungutan suara tidak menggunakan kertas suara. Melainkan menggunakan kelereng sebagai media untuk memilih anggota dewan dan wali kota.

Karena, pemerintah setempat berencana melakukan perubahan dengan menggunakan surat suara sesuai standar internasional dan tak lagi menggunakan kelereng pada tahun-tahun berikutnya.

Dikutip dari Euronews via keepo.me, Ketua Komisi Pemilihan Umum, Alieu Momar Njai mengatakan bahwa sistem pemilihan umum menggunakan kelereng ini digunakan untuk memilih calon anggota DPR.

Baca Juga : Pria Ini Cari Kunci Rumahnya yang Hilang, Tidak Sadar Ternyata Sudah Tertelan

Prosedurnya setiap pemilih nantinya akan diberikan kelereng oleh para petugas TPS, setelah dilakukan verifikasi mengenai data identitas mereka, pemilih diminta menuju ke bilik suara.

Di dalam bilik suara tersebut terdapat sebuah drum berisi foto beberap kandidat, begitu mereka memutuskan untuk memilih salah satu kandidat, mereka harus memasukkan kelereng pada ke lubang kecil.

 

Setelah semua telah selesai, giliran petugas pemungutan suara yang akan mendengarkan dengan hati-hati dentang lonceng sepeda yang melekat pada ujung tabung di dalam drum, hal ini dilakukan untuk mencegah para pemilih memilih lebih dari satu kali.

Baca Juga : Pria yang Punya 38 Istri Meninggal Dunia, Tinggalkan 89 Anak dan 36 Cucu

Serbuk gergaji atau pasir ditaburkan di bagian bawah lubang sehingga tidak ada suara kedua yang terdengar.

Untuk cara penghitungannya kelereng yang ada di dalam drum dituangkan ke dalam nampan kayu dengan 200 atau 500 lubang dan kemudian dihitung. Suara yang dihitung segera diumumkan di tempat pemungutan suara.

Menurut Momar, perubahan sistem dalam pemerintahan dan banyaknya orang yang kini berpastisipasi dalam pemungutan suara, menyebabkan ketidakmampuan menyiapkan banyak drum dan melukisnya dengan warna-warna yang berbeda. Pemakaian drum ini hanya akan memboroskan anggaran yang ada.

Baca Juga : Gadis Ini Yakin Dihamili Bocah 10 Tahun, Dokter: Tidak Mungkin Ada Sel Sperma, Dia Masih Anak-anak

“Kami tidak mampu melanjutkan dengan sistem pemungutan suara ini. Dengan perubahan sistem dalam pemerintahan, orang-orang Gambia sekarang berpartisipasi dalam politik dalam jumlah dan itu berarti dalam setiap pemilihan, kita harus membuat banyak drum dan melukisnya dengan warna yang berbeda.

“Ada negara-negara yang menggunakan surat suara yang memiliki tingkat melek huruf lebih rendah dari kami ... Drum ini tidak hanya mahal untuk dibuat tetapi Anda harus melukisnya dengan warna-warna pesta dan di mana Anda memiliki kandidat independen, Anda harus memberikan masing-masing warna.

"Kami sedang berupaya memastikan bahwa ini dilakukan sebelum pemilihan pemerintah daerah karena kelereng praktis dan mudah ketika Anda memiliki sedikit peserta politik."

#viral #Unik #aneh