Selasa, 16 Maret 2021 17:59
Foto: Tangkapan layar video.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Direktur Utama (Dirut) PD Terminal Makassar Metro, Arsony, angkat bicara terkait video keributan yang viral dan diduga terjadi di Terminal Regional Daya (TRD).

 

Saat dikonfirmasi Rakyatku, Arsony membenarkan peristiwa itu. Dia mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar tiga pekan lalu, saat berusaha menghalau warga yang berupaya mengganggu ketertiban di dalam terminal.

"Itu tiga minggu lalu kayaknya kejadiannya. Biasalah kita tidak ada pengamanan, tak ada Satpol PP. Ada Polsek, tapi mereka juga jarang patroli di dalam. Jadi kalau ada gangguan begitu yang mengganggu kenyamanan penumpang terkadang kita atasi sendiri kodong," kata Arsony, Selasa (16/3/2021).

Baca Juga : Wawali Makassar Dukung PD Terminal Tingkatkan Pendapatan lewat Kerja Sama Ekspedisi

Arsony mengatakan, hal itu sebagai upaya yang bisa dilakukan untuk menghilangkan pengacau di dalam TRD. Keberadaan mereka mengganggu kenyamanan penumpang yang masuk ke TRD.

 

"Itu upaya kami mengamankan pelayanan publik kami yang kadang diganggu oleh penggiat-penggiat liar. Saya lihat di bawah siapa yang mengamuk, jadi saya bubarkan, saya halau. Kami tidak tahu cara apa lagi dilakukan. Secara persuasif sudah, tapi masih juga mengganggu, teriak-teriak segala macam. Penumpang tidak nyaman," tambahnya.

Akibat gangguan kenyamanan penumpang tersebut, pihak TRD telah berulang kali memberi peringatan dengan pendekatan persuasif. Namun, karena keberadaan warga liar terminal tersebut sudah lama, mereka merasa tidak nyaman dan terusik.

Baca Juga : Heboh, Pria Memakai Kaos Oblong Bersarung Biru Munculkan Uang dari Balik Bantal

"Mereka, kan, sudah lama nyaman dengan hal-hal yang semrawut. Begitu kita tegakkan fungsi terminal, coba meletakkan ulang standar operasional yang benar dengan menggunakan ruang tunggu kembali, mengatur sistem transportasi, bus dibongkar, harus masuk ruang tunggu. Itu membuat mereka tidak nyaman," sebutnya.

Bahkan, kata Arsony, mereka ada yang memaksa penumpang tidak masuk ke dalam terminal dan mengarahkan langsung naik ke mobil pelat hitam.

"Mereka mengganggu penumpang mau kasih kena tarif mahal dan itu bagi kami tidak dibenarkan. Mereka tunjuk-tunjuk penumpang. Bahkan penumpang mau dialihkan, jangan masuk ke terminal baru dia kasih naik di mobil pelat hitam. Begitu dihardik langsung mengamuk segala macam," jelasnya.

Baca Juga : Wanita Ini Cek Rekening Bank Setelah 60 Tahun, Perubahan Saldonya Bikin Kaget

Yang lebih parah, kata Arsony, karena mereka tinggal di dalam area terminal secara ilegal dengan menggunakan segala fasilitas terminal. Bukan hanya sekali atau dua kali mereka mengganggu kenyamanan penumpang dan TRD, tapi sudah berulang kali.

"Ini, kan, warga liar di terminal. Kan, tidak boleh ada hunian di terminal. Mereka beranak pinak di dalam, menggunakan listrik dan air kita sesuka hati," tambahnya.

"Makanya kemudian, jangankan parang, kalau bazoka saya punya bazoka juga saya kasih turun. Begitulah cara kita menegakkan karena kita tidak punya perlindungan segala macam. Karena itulah yang ada dipakai melindungi penumpang, maka itu yang kita gunakan. Seandainya saya punya AK 47, AK 47 saya pakai berbondong itu mereka semua. Karena ini tanggung jawab kita. Orang masuk di sini dengan upaya mengacaukan pelayanan publik kita. Tiap hari ganggu dan penumpang mengeluh," bebernya.

Penulis : Syukur