Rabu, 03 Maret 2021 17:02
Ilustrasi.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, sudah menduga--bahkan sejak tahun lalu--penemuan strain baru virus corona asal Inggris B117 di Indonesia. Dia yakin B117 sudah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

 

"Ketika ditemukan itu bukan berarti hanya dua (kasus), itu sudah di mana-mana. Saya harus sampaikan itu karena sekali lagi strategi tracing, testing kita yang tidak memadai. Yang artinya tidak berlanjut dengan isolasi karantina ini tidaklah bisa memutus transmisi COVID-19, dan pola eskponensialnya selain tinggi ini berarti leluasa orang membawa virus kemana-mana tidak terdeteksi," kata Dicky dikutip dari VOA Indonesia, Rabu (3/3/2021).

Selain itu, kebijakan pembatasan kepada warga negara Indonesia maupun asing yang datang ke Indonesia dinilainya tidak ketat. Dicky mencontohkan, karantina selama lima hari kepada seseorang yang baru datang dari luar negeri tidak cukup untuk bisa mendeteksi suatu virus.

Baca Juga : Inilah Keppres Penetapan Berakhirnya Status Pandemi Covid-19 di Indonesia

"Negara yang berhasil mengendalikan pandemi tidak ada yang di bawah 10 hari. Australia 14 hari, itu pun diperketat dengan testing dua kali. Inipun selain PCR ada yang namanya genom sequencing, itu dilakukan semua. Itu dilakukan tidak hanya pada pendatang, tapi juga kepada orang-orang yang bekerja di fasilitas karantina/ isolasi atau pintu masuk itu," bebernya.

 

Dia menekankan pemerintah perlu memperkuat penanganan pandemi terutama strategi 3T, yakni testing, tracing, dan treatment. Apalagi strain baru dari Inggris lebih cepat menular dan 30 persen lebih cepat menyebabkan kematian.

Menurutnya, apabila pemerintah tidak segera memperkuat strategi penanganan pandemi, bukan tidak mungkin akan lahir mutasi virus corona baru yang lahir di Indonesia.

Baca Juga : Pemerintah Resmi Cabut Status Pandemi Covid-19, Beralih Jadi Endemi

“Dan tahun 2021 saya sebut juga sebagai tahun lahirnya banyak strain baru karena sudah cukup banyak kejadian atau wilayah yang memang belum terkendali pandeminya. Itu akan melahirkan termasuk potensi Indonesia melahirkan strain baru made in Indonesia itu bukan hal yang aneh, bukan hal yang tidak mungkin," jelasnya.

Sumber: VOA Indonesia