Minggu, 24 Januari 2021 23:59

Disdik Makassar Wacanakan Blended Learning, Begini Tanggapan Legislator

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Disdik Makassar harus lebih kreatif untuk membuat pembelajaran daring jadi lebih baik.

RAKYATKU.COM - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar berencana menggabungkan sistem belajar secara luring dan daring. Dikenal dengan istilah blended learning.

Terkait hal tersebut, DPRD Makassar berharap sistem ini betul-betul dilaksanakan. Seharusnya dapat berjalan dengan baik dan memberi hal positif untuk anak didik.

"Pemerintah tidak boleh bertaruh dengan situasi saat ini. Lebih baik menghindari ketidakpastian yang berisiko untuk menghindari adanya korban," kata anggota Komisi D DPRD Makassar, Al Hidayat Samsu.

Baca Juga : 

Hidayat mengatakan, dengan situasi pandemi ini, Disdik Makassar harus lebih kreatif untuk membuat pembelajaran daring jadi lebih baik. Ia pun mengatakan rencana Disdik tersebut dapat saja dilaksanakan dengan ketentuan akan memberi dampak positif.

"Yah bisa saja kalau mau, tapi apa yang kita sampaikan kemarin kesiapannya itu harus ada dulu. Semisal jaminan keamanan dan sebagainya," tambah legislator PDIP tersebut.

Anggota Komisi D DPRD Makassar lainnya, Irwan Djafar mengatakan telah banyak mendapat keluhan dari orang tua siswa karena sistem pembelajaran daring belum sepenuhnya optimal. Pembelajaran blended diharapkan menjadi langkah awal agar pendidikan di Makassar kembali baik.

 

"Saya sepakat dengan gagasan ini. Memang perlu. Kita mau melihat pendidikan anak-anak kita baik. Ini kan banyak masalah kemarin (daring)," kata Irwan.

Dengan adanya sistem ini, kata Irwan, mampu menghidupkan kebiasaan lama siswa. Semisal bangun pagi. Ia juga mengatakan, sistem belajar daring seperti yang diberlakukan selama pandemi tidak seefektif pembelajaran tatap muka.

"Pasti tingkat penerimaan siswa antara daring dan luring berbeda. Jadi kita minta memang ini pemerintah cari solusi-solusi seperti ini. Ini bisa jadi solusi bagaimana pendidikan digelar sambil menghindari peningkatan kasus Covid-19," tambahnya.

Sebelumnya, pelaksana tugas Kadisdik Makassar, Andi Irwan Bangsawan telah membuat modul pembelajaran secara campuran mengacu pada kurikulum darurat. Dimana di dalam juknis disebutkan hanya 50 persen siswa yang belajar di sekolah. Selebihnya belajar secara daring dari rumah.

"Khusus jenjang pendidikan SMP siswa hanya mengikuti pelajaran maksimal dua jam per hari. Sedangkan pendidikan SD maksimal satu setengah jam. Bahkan, dalam sepekan siswa hanya masuk sekolah selama dua hari. Ada belajar di rumah, ada di sekolah. Konsepnya, itu bergantung sekolah karena itu teknis guru-guru yang tahu. Kita hanya kebijakan umum saja," kata Irwan.

Penulis : Syukur
#dprd makassar #blended learning