Senin, 11 Januari 2021 21:04
Editor : Fathul Khair Akmal

RAKYATKU.COM - Seperti peristiwa penculikan Chowchilla, peristiwa keji yang menewaskan 26 anak kecil yang semuanya dikubur hidup-hidup di dalam mobil van. Mobil tersebut serupa oven bagi anak-anak tersebut.

 

15 Juli 1976, saat musim panas, anak-anak sekolah berusia 5 sampai 14 tahun dari salah satu sekolah di California sedang menikmati perjalanan ke kolam renang di wilayah tersebut sebagai bagian dari mata pelajaran di Sekolah Dasar Dairyland, Chowchilla, di California tengah.

Dalam perjalanan tersebut tiba-tiba sang supir bus, Ed Ray, terpaksa berhenti di tengah jalan berdebu setelah dicegat oleh tiga pria bersenjata. Ketiganya memerintahkan Ray, yang saat itu berusia 52 tahun, bersama para penumpangnya yaitu tujuh anak lelaki dan 19 anak perempuan untuk segera naik dua mobil van putih. Mereka pun dibawa ke arah barat laut, tepatnya ke sebuah tambang batu terpencil di wilayah barat Livermore.

Baca Juga : Kasus Suami Bunuh Suami di Bone, Pelaku Ditangkap di Kolaka Utara

Selama perjalanan, beberapa anak-anak mulai ketakutan dan muntah-muntah karena mabuk darat. Untuk menghibur dan menenangkan suasana, anak-anak yang lebih besar mulai bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu seperti Love Will Keep Us Together dan If You're Happy And You Know It.

 

"Awalnya kami mengira itu mungkin lelucon yang dilakukan oleh beberapa orangtua tetapi dengan cepat berubah menjadi horor," kata salah seorang korban yang kini telah berusia 49 tahun, Larry Park.

"Salah satu dari pria itu memiliki senapan laras ganda, dan gergaji yang dia tunjukkan pada kami. Saya ingat bahwa pistol diarahkan ke saya."

Baca Juga : Gara-gara Pohon Lontar, Petani di Pangkep Tewas Terbunuh

"Saat itulah saya menyadari, itu sangat buruk dan sangat nyata. Saya memiliki memori yang hampir seperti fotografi, jadi tidak ada tentang penculikan yang tidak saya ingat. Korban lainnya, Jennifer Brown Hyde, yang saat itu masih berusia sembilan tahun, mengatakan bahwa dia merasa seperti seekor binatang yang dibawa ke rumah jagal."

Setelah melewati perjalanan yang panjang dan menegangkan, akhirnya mereka tiba di tambang sekitar pukul 3 pagi. Para sandera mulai digiring dengan todongan senjata ke dalam gerbong sebuah mobil van yang telah dikubur lebih dari 3 meter di bawah tanah.

Kemudian, dalam kondisi gelap dan pengap, para penculik meminta sandera untuk menyebutkan nama mereka masing-masing dan memberi melepas pakaiannya yang akan digunakan para penculik untuk meminta tebusan.

Baca Juga : Ditangkap Setelah Membunuh, Pelaku Mengakui Sempat Berhubungan Badan dengan Korban

Kemudian hari barulah diketahui bahwa ketiga orang itu sudah merencanakan penculikan tersebut selama 18 bulan. Mereka terinspirasi dari film Dirty Harry yang menampilkan tokoh seorang pembunuh bernama Scorpio yang menculik satu bus penuh anak sekolah untuk mendapatkan tebusan.

Anak-anak yang disandera pun kemudian dipaksa untuk menuruni tangga menuju ke gerbong di bawah tanah. Di dalamnya mereka menemukan beberapa kasur yang kotor dan juga wadah air.

Sementara itu, mereka mendengar para penculik mulai melemparkan tanah ke atas gerbong, bersama dengan dua baterai traktor untuk menutup lubang palka. Ternyata, Ray dan anak-anak itu 'dikubur' hidup-hidup.