Kamis, 07 Januari 2021 17:02

Penyergapan Terduga Jaringan Teroris di Sulsel: Pengintaian Sejak 2015, Dimulai Gowa, Terakhir di Enrekang

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Jumpa Pers di Aula Mappaoddang, Polda Sulsel, Kamis (7/1/2021).
Jumpa Pers di Aula Mappaoddang, Polda Sulsel, Kamis (7/1/2021).

"Telah dilakukan pengintaian sejak tahun 2015 sampai 2021 kejadian kemarin oleh Densus 88."

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kepolisian merilis 20 nama-nama terduga teroris yang disergap Densus 88 AT Mabes Polri di Kota Makassar, Sulsel, Rabu (6/1/2020) kemarin.

Nama-nama terduga pelaku teroris dipublikasi, Kamis (7/1/2021), pada jumpa Pers di Aula Mappaoddang, Polda Sulsel, termasuk dua orang yang meninggal dunia saat penyergapan.

"Satu orang mengalami luka tembak dan masih sementara menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara (inisial IR). Masih dalam pengawasan petugas," kata Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam.

Baca Juga : 

Sebelum dilakukan penyergapan, telah dilakukan pengintaian selama bertahun-tahun. "Telah dilakukan pengintaian sejak tahun 2015 sampai 2021 kejadian kemarin oleh Densus 88," tambahnya.

Adapun hubungan dari dua orang pelaku yang meninggal dari 18 orang diduga kuat terkait dengan ISIS dan Yayasan Aridho milik Ustaz Basri yang merupakan narapidana teroris. Para terduga pelaku diduga kuat telah terlibat beberapa rangkaian kejahatan terorisme.

"Pelaku merupakan jaringan JAD bersama dengan ratusan jemaah lainnya mengatakan baiat kepada khilafah atau ISIS pada tahun 2015 di Ponpes Aridho pimpinan Ustaz Basri (meninggal dunia di Nusa Kambangan)," sebut Merdi.

 

Merdi juga mengatakan, mereka mengadakan kajian khusus pendukung daulah di Villa Mutiara dan Yayasan Aridho. Pada 2016 bersama keluarga hijrah atau bermaksud bergabung dengan organisasi ISIS, tetapi dapat dibatalkan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

"Terlibat dalam pengiriman dana kepada pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Zolo, Filipina, di mana pelaku kelompok jemaah Villa Mutiara. Mulai bulan Oktober 2020 kelompok Villa Mutiara secara rutin latihan menembak dan naik gunung (i'dad). Fasilitator pelarian diidentifikasi atas nama Andi Baso (DPO bom Gereja Oukumene Samarinda 2017). Perencanaan bom Gereja Hulu 2019 suami istri di Filipina, Ulfa saudara kandung dari MRS," bebernya.

Penyergapan 20 orang terduga jaringan teroris itu tersebar di lima titik di Sulsel, yakni di Kec Biringkanaya Villa Mutiara, Makassar, Sudiang Raya, Tallo Kota Makassar, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, dan Dusun Taulo, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.

Penyergapan pertama dilakukan di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Rabu (6/1/2021) sekitar pukul 04.00 Wita. Densus 88 Antiteror menangkap sembilan terduga teroris. "Lokasi pertama itu ada di Kabupaten Gowa," kata Merdi.

Penyergapan selanjutnya dilakukan di Jalan Boulevard, Cluster Biru, Kompleks Perumahan Villa Mutiara Biru, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Bhiringkanaya, Kota Makassar.

Tim gabungan berhasil mengamankan 10 orang terduga teroris. Penyergapan sempat terjadi perlawanan yang mengakibatkan dua terduga teroris yakni MR dan AS ditembak mati dan satu lainnya berinisial IW mengalami luka tembak.

"Dilakukan tindakan tegas terukur terhadap MR dan AS karena melawan dengan senjata tajam jenis parang dan senapan angin jenis PCP," tambahnya.

Densus 88 Antiteror kemudian melanjutkan penyergapan di Dusun Taulo, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang. Densus 88 Antiteror berhasil mengamankan seorang terduga teroris berinisial RT alias AJ tanpa perlawanan sekitar pukul 16.30 Wita. "Di Enrekang itu yang terakhir sehingga jumlahnya 20 orang," ucap Merdi.

Selain para terduga pelaku, Densus 88 Antiteror juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya sejumlah senapan angin jenis PCP, busur panah, bahan peledak, senjata tajam, buku-buku yang berkaitan dengan terorisme, serta sejumlah pakaian.

Penulis : Syukur
#Teroris #Teroris Makassar