Selasa, 13 Oktober 2020 10:02

Nagara Institute Catat 124 Cakada Terafiliasi Dinasti Politik, Sulsel Juaranya

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Akbar Faizal
Akbar Faizal

Selain mengusung anak atau menantu penguasa, pola lainnya, suami yang mengajukan istrinya menjadi kepala daerah.

RAKYATKU.COM - Dinasti politik masih mewarnai pilkada 2020. Nagara Institute mencatat, 124 calon kepala daerah adalah kerabat dekat penguasa di tingkat lokal hingga nasional.

Dari jumlah itu, dua di antaranya keluarga dekat Presiden RI, Joko Widodo. Putranya Gibran Rakabuming Raka maju di Pilkada Solo. Sementara menantu, Bobby Afif Nasution di Pilkada Medan.

Direktur Nagara Institute, Akbar Faizal menguraikan, cakada yang terafiliasi dinasti politik terdiri atas 57 calon bupati dan 30 calon wakil bupati, 20 calon wali kota dan delapan calon wakil wali kota, serta lima calon gubernur dan empat calon wakil gubernur.

Dari jumlah tersebut jika diklasifikasikan berdasarkan gender, terdapat 67 laki-laki dan 57 perempuan. Dari 57 perempuan tersebut terdapat 29 kandidat perempuan yang merupakan istri dari kepala daerah petahana.

Pola atau modelnya cenderung sama. Terus dipertahankan. Selain mengusung anak atau menantu penguasa, pola lainnya, suami yang mengajukan istrinya menjadi kepala daerah. Contohnya Abdullah Azwar Anas di Pilkada Banyuwangi.

"Selain itu, masih ada 29 istri petahana," ucapnya.

 

Ada juga pertaruhan antardinasti politik. Pilkada Tangerang Selatan, contohnya. Putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin bersaing dengan keponakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan kerabat dari mantan Gubernur Banten Ratu Atut.

"Pertarungan dinasti tidak hanya antardinasti, tetapi terjadi dalam ‘internal’ dinasti seperti yang terjadi Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yakni dalam dinasti Syamsuddin A Hamid, bupati petahana," urai Akbar Faizal.

Berdasarkan sebarannya, Provinsi Sulawesi Selatan juaranya. Dua belas calon kepala daerah terafiliasi dinasti politik.

Posisi kedua Sulawesi Utara, yakni 11 orang yang tersebar di satu provinsi pemilihan, empat kabupaten pemilihan dan tiga kota pemilihan.

Ketiga dan keempat ada di Pulau Jawa, yakni Jawa Tengah sebanyak 10 kandidat yang tersebar di tujuh kabupaten pemilihan dan dua kota pemilihan.

Disusul, Jawa Timur yakni sebanyak sembilan orang yang tersebar di tujuh kabupaten pemilihan dan dua kota pemilihan.

Pada rentang waktu 2005-2014, tercatat hanya 59 orang kandidat yang terafiliasi dinasti politik. Lalu, naik menjadi 86 pada pilkada serentak 2015, 2017, dan 2018. Sekarang membengkak menjadi 124.

Berdasarkan partai politik, Partai Golkar paling banyak mengusung dinasti politik yakni 12,9 persen. Disusul PDIP 12,4 persen, dan Partai NasDem 10,1 persen.

Dalam hal partai yang mengusung calon kepala daerah nonkader, Partai NasDem menempati posisi teratas sebanyak 13,1 persen, disusul PDIP 11,7 persen, dan Partai Hanura 9,7 persen.

"Partai politik belum berhasil untuk menjadi menyiapkan calon pimpinan daerah. Pragmatisme partai politik ditunjukkan dengan merekrut orang orang yang bukan kader partai. Fungsi rekrutmen yang tidak berjalan baik akhirnya kian menyuburkan dinasti politik," kata mantan anggota DPR RI ini.

Riset yang dilakukan Nagara Institute menggunakan metode kualitatif. Data primer diperoleh dari informan yang disebar beberapa daerah di seluruh Indonesia. Hasilnya dielaborasikan melalui pendekatan analisis wacana.