Selasa, 08 September 2020 09:02

Ibunya Dihina di Depan Umum, Ini yang Dilakukan Remaja 17 Tahun kepada Ayah dengan Tongkatnya

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Dia sempat mengingatkan ayahnya bahwa dia tidak boleh menyinggung perasaan ibu di depan orang banyak.

RAKYATKU.COM - Remaja ini sayang kepada ayahnya. Namun, ketika ibunya dihina terus menerus, dia akhirnya mengambil sikap.

Remaja itu berusia 17 tahun. Ayahnya masih muda, 40 tahun. Mereka warga Mesir.

"Saya membunuhnya dengan memukul kepalanya dengan tongkat," katanya seperti dikutip dari Gulf News.

Baca Juga : 

Peristiwa itu terjadi di Desa Masjid Mousa di kota Atfih, selatan Giza.

Terdakwa, Ahmed menyatakan dengan tegas di hadapan Kantor Kejaksaan Al Saf, yang dipimpin oleh Mohamed Salah Al Shalqami, bahwa dia tinggal bersama ibunya setelah perceraiannya dengan ayahnya, Idul Fitri.

Pada hari nahas itu, dia mengunjungi ayahnya, yang tidak berhenti menghina dia dan ibunya dengan kata-kata yang tidak senonoh.

Begitu korban melihat putranya, dia menghinanya, mengulangi, "Dia bilang: Ayo, temui ayahmu."

Ahmed mengatakan bahwa dia tidak tahan ibunya dihina di depan keluarga dan orang lain. Dia sempat mengingatkan ayahnya bahwa dia tidak boleh menyinggung perasaan ibu di depan orang banyak.

Sang ayah tidak menanggapi, malah terus mengumpat.

Orang-orang di desa kecil berkumpul dan memberi tahu polisi tentang pembunuhan seorang petani.

Petugas keamanan lalu menangkap terdakwa. Pelaku ditahan selama empat hari sambil menunggu penyelidikan. Seorang hakim kemudian memperpanjang penahanannya menjadi 15 hari.

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Mesir 2014, hampir 80 persen responden pria menikah mengaku telah melakukan kekerasan pada istri mereka. Sementara 28 persen mengakui bahwa mereka melakukan kekerasan fisik.

Pada tahun sebelumnya, 50 persen dari perempuan yang disurvei melaporkan mengalami beberapa bentuk kekerasan. Sementara 16 persen dianiaya secara fisik.

Para ahli mengatakan, kekerasan dalam rumah tangga dapat memiliki konsekuensi berbahaya bagi anak-anak yang menyaksikannya dalam hal perkembangan emosional, kognitif, dan perilaku mereka, yang dijelaskan sebagai siklus kekerasan antargenerasi.

Sejalan dengan itu, ditunjukkan bahwa anak-anak yang pernah mengalami kekerasan dalam keluarga asalnya lebih cenderung terlibat dalam hubungan kekerasan saat dewasa.

#pembunuhan