Rabu, 02 September 2020 20:03

Spanyol Alami Gelombang Kedua Pandemi Covid-19

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Foto: The Bangkok Post
Foto: The Bangkok Post

Spanyol sudah menjadi salah satu negara yang paling terpukul di Eropa, dan sekarang memiliki sekitar 440.000 kasus dan lebih dari 29.000 kematian.

RAKYATKU.COM - Minggu siang kemarin ada 31 pasien Covid-19 tengah dirawat di rumah sakit di Kota Malaga, Spanyol. Malaga saat ini menjadi kota dengan tingkat penularan Covid-19 tercepat di Negeri Matador.

Jika sebelumnya Italia adalah pertanda gelombang pertama virus corona di Eropa, kini Spanyol menjadi pertanda gelombang kedua.

Dikutip dari The Straits Times, Selasa (1/9), Pada Minggu tengah hari kemarin seorang pasien tiba dengan ambulans di Malaga, selang setengah jam pasien No. 33 datang.

Baca Juga : 

Tempat sampah di dekat pintu Rumah Sakit dipenuhi masker serta sarung tangan bedah biru. Para keluarga hanya bisa berdiam diri di luar, salah satu dari mereka menangis dan yang lain merasakan deja-vu.

“Kakak ipar saya terkena virus pada musim semi,” kata Julia Bautista, seorang pensiunan administrator kantor berusia 58 tahun yang menunggu berita hari Minggu tentang ayahnya yang berusia 91 tahun. “Sekarang datang lagi,” tambahnya.

Prancis juga melonjak, seperti beberapa bagian Eropa Timur dan kasus-kasus terus meningkat di Jerman, Yunani, Italia, dan Belgia, dalam sepekan terakhir.

Spanyol telah mencatat kasus terbaru di benua Eropa sejauh ini lebih dari 53.000 kasus. Dengan 114 infeksi baru per 10.000 orang pada waktu itu, virus menyebar lebih cepat di Spanyol daripada di Amerika Serikat. Dua kali lebih cepat daripada Prancis, delapan kali lipat di Italia dan Inggris, serta 10 kali lebih cepat di Jerman.

Spanyol sudah menjadi salah satu negara yang paling terpukul di Eropa, dan sekarang memiliki sekitar 440.000 kasus dan lebih dari 29.000 kematian.

Sekarang ketika orang Eropa memikirkan bagaimana memulai kembali ekonomi mereka sambil tetap melindungi kehidupan manusia, orang Spanyol justru menjadi penentu awal bagaimana gelombang kedua mungkin terjadi, seberapa parah hal itu terjadi, dan bagaimana hal itu dapat diatasi.

“Mungkin Spanyol adalah burung kenari di tambang batu bara,” ujar Profesor Antoni Trilla seorang ahli epidemologi di Institut Barcelona untuk kesehatan Global, sebuah penelitian.

“Banyak negara mungkin mengikuti kami, tapi semoga tidak dengan kecepatan yang sama atau dengan jumlah kasus sama yang kami hadapi,” tambahnya.

Kurangnya dukungan kelembagaan untuk migran tidak berdokumen juga turut berkontribusi pada gelombang kedua, menurut beberapa ahli.

sumber: merdeka.com

#Virus Corona