Rabu, 03 Juni 2020 07:02

Dewan Profesor Unhas: Inovasi Keberagaman Sosial Solusi Pecahkan Pandemi

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Prof Dr Imam Mujahidin Fahmid
Prof Dr Imam Mujahidin Fahmid

Kebijakan New Normal di tengah pandemi corona yang tengah digulirkan oleh Presiden Jokowi saat kunjungannya ke Summarecon Mal Bekasi, 26 Mei lalu menimbulkan pro kontra di masyarakat. 

RAKYATKU.COM - Kebijakan New Normal di tengah pandemi corona yang tengah digulirkan oleh Presiden Jokowi saat kunjungannya ke Summarecon Mal Bekasi, 26 Mei lalu menimbulkan pro kontra di masyarakat. 

Tak pelak, diskursus terkait kebijakan baru ini terus mengemuka di berbagai forum dan media lantaran menuai banyak perhatian publik tatkala pelaksanaan pemulihan ekonomi paska pandemi ini dianggap seragam, dengan penentuan tanggal berakhirnya situasi darurat pada 4 Juni 2020.

"Masyarakat Indonesia mengalami defisit kreativitas atau inovasi keberagaman sosial. Selama ini masyarakat diajari secara kolektif merespon masalah dengan cara yang sama, alhasil terjadi penurunan imunitas/daya tahan sosial," ujar Prof Dr Imam Mujahidin Fahmid pada seminar online bertajuk Pemulihan Ekonomi-Sosial Paska Covid-19 yang dihelat Dewan Profesor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Senin pagi (1/6/2020).

Apa yang dikatakan Imam cukup beralasan. Mengingat kebijakan yang dilakukan oleh daerah satu dengan lainnya dalam menghadapi pandemi relatif sama. Padahal, situasi dan karakteristik wilayah berbeda-beda. Oleh karenanya Imam berpendapat bahwa setiap daerah memerlukan pendekatan yang berbeda pula.

Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu menyampaikan hal senada. Dia menilai bahwa untuk menghadapi new normal ini, dibutuhkan sebuah pemikiran luas secara bijak dengan melibatkan berbagai aspek kehidupan bangsa ini.

"Kita harus selesaikan problem ini berdasarkan pada kearifan lokal masing-masing pemerintah daerah. Selalu mengikuti protokol kesehatan yang sesuai standar. Memiliki roadmap pemulihan pasca pandemik secara terstruktur, bagaimana setiap kegiatan berdasar pada protokol sesuai dengan standar. Kita perlu kesadaran secara struktural, tidak secara individual dengan melibatkan tokoh masyararakat secara lebih luas. Sehingga mampu dibangun secara komprehensif pemulihan ekonomi sosial secara tepat," ucap Dwia.

Imam melanjutkan bahwa pandemi Covid-19 menjadi momentum sangat penting bagi para otoritas strategis. Khususnya untuk melakukan penyesuaian maupun perubahan kebijakan yang direncanakan, dilaksanakan dan diawasi, sesuai kondisi ringan, sedang dan beratnya masalah yang dihadapi. 

Pilihan urutan tingkat kesulitan menjadi prioritas kebijakan yang harus berubah. Didasarkan pada pertimbangan dan pendekatan-pendekatan konseptual dan empiris yang terbaik dan bermanfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, seperti pemerintah, lembaga-lembaga strategis tertentu, industri, dan dunia usaha, dan terutama masyarakat luas. 

Untuk itu, inovasi kebijakan utamanya keberagaman sosial sebagai konsep dan terutama dapat direalisasikan adalah suatu keniscayaan dalam menghadapi Covid-19.

“Kekuatan sosial jauh lebih penting dibandingkan dengan kekuatan teknis. Ini penting karena jika ada gejolak, maka entitas sosial yang akan menyelesaikan, bukan menggantungkan pada negara. Jika ini bisa dilakukan maka inovasi berbagai kebijakan ekonomi-sosial dapat lebih efektif," lanjut Imam.

Imam kembali menekankan salah satu implementasi inovasi kebijakan ekonomi pada masa new normal adalah pemihakan pada empat setor. 

Pertama, kebijakan sektor UMKM dan koperasi berbasis digital. Kedua, kebijakan pertanian berbasis industri dan digital. Ketiga, kebijakan industri berbasis sumber daya lokal dan nasional, serta berorientasi ekspor. Keempat, kebijakan perdagangan regional dan internasional berbasis sumber daya domestik hilir.

Selain Rektor Unhas, seminar juga dihadiri sejumlah guru besar Unhas seperti Prof Saleh S Ali, Prof Marzuki, Prof Amran Razak, dekan dan ketua program studi, serta 2.324 peserta dari berbagai kalangan. Mulai akademisi, praktisi, birokrat, dan masyarakat umum di seluruh Indonesia.