Senin, 20 April 2020 17:05

Bicara Kotor Sambil Pukul Mobil Anggota DPRD Sulsel di Bantaeng, Pria Berbaju Merah Jadi Buah Bibir

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Andi Edy Manaf (kiri).
Andi Edy Manaf (kiri).

Masih ingat pelesetan corona di awal virus ini mewabah? Beredar sejumlah meme di media sosial. Katanya, di Makassar yang ada bukan corona, melainkan "koro-koroang".

RAKYATKU.COM - Masih ingat pelesetan corona di awal virus ini mewabah? Beredar sejumlah meme di media sosial. Katanya, di Makassar yang ada bukan corona, melainkan "koro-koroang".

Nah, ini yang terjadi di Bantaeng. Hingga Senin (20/4/2020), belum satu pun warga Butta Toa yang terkonfirmasi positif Covid-19. Berbagai upaya dilakukan pemerintah setempat untuk mencegah virus ini masuk Bantaeng.

Salah satunya dengan memperketat pemeriksaan di perbatasan kabupaten. Khususnya di batas Bantaeng-Jeneponto dan batas Bantaeng-Bulukumba. Semua kendaraan dan penumpangnya harus disemprot.

Cirannya dibedakan. Mobil disemprot dengan disinfektan. Sementara penumpang disemprot dengan antiseptik. Dinas Kesehatan Bantaeng menjamin cairan antiseptik itu aman bagi kulit.

Tidak ada corona, lahir lah "koro-koroang". Pada Minggu (19/4/2020), melintas anggota DPRD Sulsel, Andi Edy Manaf. Dia mantan ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Bulukumba dan mantan calon wakil bupati.

Edy Manaf hanya berdua dengan sopir. Saat tiba di Rest Area Sasayya, Tino, Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Bantaeng, mobilnya dihentikan petugas. Sasayya adalah perbatasan Bantaeng-Jeneponto.

Sesuai prosedur, mobil diarahkan ke gerbang disinfektan. Sementara seluruh penumpang harus disemprot dengan antiseptik. Mereka juga diwawancara singkat tentang daerah tujuan.

Saat itu, Andi Edy Manaf enggan turun dari mobil. Dia menolak untuk disemprot karena takut alergi. Setelah didesak petugas, dia akhirnya turun. "Siapa yang tanggung jawab kalau saya alergi?" ujar Edy kepada petugas.

Sopir menyampaikan bahwa Andi Edy Manaf ini anggota DPRD Sulsel. Petugas tambah menjadi-jadi. Seorang perempuan menggunakan mikrofon terus berbicara dengan nada tinggi.

"Sebagai pejabat, bapak harusnya menjadi contoh," begitu antara lain.

Edy Manaf tersinggung dan berusaha mendatangi perempuan itu. "Kamu ngomong apa?" kata Edy yang hanya mengenakan celana pendek selutut, kaus abu-abu, topi, dan masker.

Beberapa polisi dan tentara langsung melerai. Petugas meminta Edy naik ke mobil bernomor polisi DD 18 EM dan melanjutkan perjalanan.

Masalah tidak sampai di situ. Edy Manaf sebenarnya datang dari Jeneponto hendak ke Bulukumba. Namun, dihalangi petugas. Dia diminta berbalik arah kembali ke Jeneponto. Sopir akhirnya menurut.

Sebelum Edy pergi, seorang pria berbaju merah tampak melakukan aksi berlebihan. Dia memukul-mukul bodi mobil yang mulus itu sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

"Ta**as*...." maki pria berbaju merah dalam video yang viral di media sosial. Tak hanya itu, terdengar juga suara yang mengancam membakar mobil Edy Manaf.

"Ini yang baju merah taua jago," komentar salah seorang anggota grup WhatApp di Bulukumba. 

Banyak komentar serupa melihat aksi pria itu. Banyak yang menyayangkan sikap berlebihan itu, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata kotor.

Kepala Puskesmas Bissappu, dr Fatmiyanti Gani menyebut adu terjadi lantaran Edy Manaf menolak disemprot antiseptik.

"Bapak itu tidak mau tertib. Disuruh untuk turun. Bapak itu sambil marah turun, menyampaikan bahwa siapa yang mau tanggung jawab kalau saya alergi. Tapi kami sudah sampaikan bahwa ini antiseptik dan aman untuk manusia," jelas dokter Anti, sapaannya, Senin (20/4/2020).

Wakil Ketua DPRD Bantaeng, H Irianto juga mengaku risih dengan kejadian tersebut. Walau Edy rekan separtainya, Irianto menyebut sebaiknya Edy Manaf mengikuti protap.

Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng, dr Andi Ihsan meminta maaf atas kejadian tersebut.

"Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Sulawesi Selatan yang melintas di seluruh perbatasan Kabupaten Bantaeng. Kami melakukan kegiatan disinfektan kendaraan, penyemprotan antiseptik yang aman bagi tubuh, dan pemeriksaan suhu tubuh dan pendataan pengunjung yang akan tinggal di Bantaeng. Semua ini kami lakukan dalam rangka memutus mata rantai penularan Covid-19 di Bantaeng," jelas Andi Ihsan.

Meski demikian, Andi Ihsan mengaku akan memperbaiki pola komunikasi petugas di lapangan. Diharapkan kesalahpahaman serupa tidak lagi terjadi ke depan.