RAKYATKU.COM - Golkar ribut lagi. Kali ini terkait surat tugas di pilkada. Bakal calon bupati Bulukumba, Jamaluddin M Syamsir (JMS) menuding Nurdin Halid telah melakukan rekayasa.
Jamaluddin adalah pengurus DPP Partai Golkar. Dia bergabung di Badan Pemenangan Pemilu. Ikut serta dalam rapat membahas kandidat kepala daerah yang akan diusung Golkar.
Mantan staf ahli Menteri Sosial, Idrus Marham itu pula yang membocorkan kandidat yang bakal diusung Golkar di Sulsel. Rekomendasi dan surat tugas yang diserahkan Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto di CCC, semua sama seperti bocoran JMS.
Hanya Bulukumba yang meleset. JMS sebelumnya mengklaim, dirinya yang diputuskan dalam rapat di DPP Golkar. Ternyata, surat tugas yang terbit, diberikan kepada Andi Hamzah Pangki.
Juru bicara DPD I Partai Golkar Sulsel, Muhammad Risman Pasigai (MRP) bilang, tudingan yang dialamatkan ke NH merupakan kebohongan besar.
"Tidak ada sama sekali hubungannya urusan pilkada dengan rencana pelaksanaan musda. Sebagaimana pernyataan JMS ke media," ungkap MRP, Selasa (10/3/2020).
Pernyataan JSM tersebut, bahkan dianggap merendahkan harkat dan martabat Airlangga Hartarto sebagai ketua umum DPP Partai Golkar.
Ia menyebut pernyataan yang disampaikan JMS ke publik sangatlah tidak etis sebagai pengurus DPP.
"Jangan karena hanya persoalan tidak direkom oleh DPP kemudian JMS menuding Pak NH yang merekayasa. Bagaimana bisa Pak NH yang mengubah surat rekomendasi DPP Partai Golkar, sementara bukan kewenangannya. Inilah kekeliruan JSM," tambahnya.
Dikatakan, rekomendasi tersebut merupakan keputusan DPP Partai Golkar. Diteken langsung ketua umum dan sekretaris jenderal DPP Golkar.
Rekomendasi diberikan ke Hamzah Pangki karena elektabilitasnya tinggi. Termasuk pertimbangan lainnya karena Hamzah Pangki adalah ketua DPD II Partai Golkar Bulukumba.
"Sejatinya Jamal tahu diri kalau memang survei elektabilitasnya rendah sekali. Dikalahkan sama Hamzah Pangki. Mestinya juga Jamal berbesar hati atau legowo sebagai kader dan pengurus DPP dengan menerima kenyataan serta keputusan tersebut bukan malah memantik terjadinya konflik internal di partai," beber MRP.
Sementara, Jamaluddin M Syamsir ngotot bahwa fakta-faktu menunjukkan NH melakukan rekayasa. Bahkan ia menyebut ada sabotase sebelum penyerahan rekomendasi.
"Faktanya begitu. Disabotase di akhir melawan hasil rapat internal pemenangan pemilu," ungkapnya.
Ia mengatakan sebelum penyerahan rekomendasi, ada pembahasan di DPP tentang kader Golkar yang akan didorong di Kabupaten Bulukumba.
"Bulukumba itu NH sebut tiga kader; saya (JMS), Hamzah Pangki, dan Risman. Risman bilang kayaknya saya mundur. Saya serahkan ke DPP putuskan. Setelah pertemuan, rapat internal pemenangan pemilu memutuskan Jamaluddin M Syamsir," tambahnya.
