RAKYATKU.COM - Menghadapi era revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan sendiri bagi seluruh pihak. Tidak terkecuali bagi institusi perguruan tinggi, terlebih bagi dosen dan mahasiswa.
Perguruan tinggi tidak boleh berpangku tangan. Duduk diam menghadapi era yang ditandai dengan proses digitalisasi.
Hal di atas menjadi pembuka sekaligus warning yang disampaikan Prof dr Budu, SpM (K) saat mengawali pembicaraan dalam Masika EduTalk 2020.
"Jangan duduk menerima revolusi. Kita harus cepat. Kalau kita jalan bersama revolusi, maka kita akan ditinggalkan. Kita harus menunggu revolusi. Itulah yang dikatakan inovatif," katanya.
Perguruan tinggi mesti adaptif menghadapi era digital ini dengan bersiap diri sehingga dapat bertahan.
Dekan Fakultas Kedokteran Unhas dan ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) ini menambahkan, dalam pengembangan perguruan tinggi mestinya berbasis value atau nilai, infrastruktur, dan sumber daya yang komprehensif. Sehingga pilihan serta keinginan dan harapan masyarakat atas kehadiran lebih terpenuhi.
"Saya melihat kondisi hari ini masyarakat menjatuhkan pilihan berdasar dari value yang mereka dapatkan. Misalnya mereka memilih kampus ini berdasar kebutuhan dan tawaran dari kampus tersebut. Sehingga kompetensinya lebih terasah karena sesuai tempatnya," lanjut Prof Budu.
Efek dari proses digitalisasi ini sangat terasa. Tidak ada lagi hal-hal yang tidak bisa diakses. Sehingga perguruan tinggi mesti terbuka dalam menghadapi perubahan tersebut. Mahasiswa semakin pintar tak heran beberapa dari mereka memiliki pengetahuan lebih dari dosennya.
"Karena basis saya kedokteran, pasien semakin hari semakin pintar. Pasien datang langsung dapat mendiagnosa dirinya. Sama halnya mahasiswa, dengan akses informasi yang sangat cepat, pengetahuan lompatannya makin jauh," ujar Prof Budu.
Menanggapi kebijakan Kemendikbud dalam bidang pendidikan tinggi salah satunya terkait kampus merdeka, hal yang terpenting adalah mengetahui problem utama pendidikan. Sehingga mendapat penanganan yang sesuai. Bukan lain yang sakit, lain diobati.
"Kampus merdeka itu seyogyanya merdeka dari hal-hal seperti kebijakan yang malah menghambat kampus untuk maju. Salah satunya ke arah digitalisasi serta pengelolaan resources kampus," tutup Prof Budu.
Masika Edutalk 2020 merupakan hasil kerja sama Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua ICMI Sulsel, Prof Dr H Arismunandar MPd; Wasekjen ICMI, Prof Dr Niniek Eliza; Kepala Dinas ESDM Sulsel, Andi Irawan Bintang; Wakil Rektor I Unismuh, Dr Ir Rakhim Nanda; Wakil Rektor II Umpar Arham SE MAk; Ketua Masika Sulsel drg Ardiansyah S Pawinru; Ketua Panitia Masika EduTalk 2020, Nur Riswandy Marsuki, dan sivitas akademika dari belbagai kampus di Sulawesi Selatan.
