Selasa, 04 Februari 2020 15:39

"Saya Bangga Sekali," Respons Menko Luhut terhadap AWR yang Diluncurkan Mentan SYL

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan berbincang dengan Mentan Syahrul Yasin Limpo pada peluncuran AWR, Selasa (4/2/2020).
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan berbincang dengan Mentan Syahrul Yasin Limpo pada peluncuran AWR, Selasa (4/2/2020).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bikin Luhut Binsar Panjaitan kagum. Menko Kemaritiman dan Investasi itu diundang pada peluncuran Agriculture War Room (AWR).

RAKYATKU.COM - Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bikin Luhut Binsar Panjaitan kagum. Menko Kemaritiman dan Investasi itu diundang pada peluncuran Agriculture War Room (AWR).

"Saya sangat bangga sekali. Apapun kerjanya pasti harus bermain data. Data itu valid," kata Luhut, Selasa (4/2/2020).

"Kalau ini ditata dengan baik, ke depan kita tidak akan ribut lagi soal impor beras atau lainnya," lanjut menteri berlatar belakang militer itu. 

Menurutnya, apa yang dibuat Mentan Syahrul ini harus dipertahankan. "Bahkan bisa lebih maju lagi karena teknologi sejatinya terus berkembang," tambahnya.

Agriculture War Room (AWR) adalah pusat data dan sistem kontrol pembangunan pertanian nasional berbasis teknologi. 

Sistem ini nantinya akan digunakan sebagai pemicu tumbuh kembangnya produksi di atas angka rata-rata.

"Langkah awal ini berkaitan langsung dengan isi perut 267 juta orang. Dengan alat ini kami ingin pertanian ke depan lebih maju, lebih mandiri, dan lebih modern untuk hasil yang memuaskan," ujar Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Menurut Syahrul, teknologi ini nantinya akan menjadi alat ukur dalam melakukan pengawasan. Sekaligus mapping area lahan nasional. 

Oleh sebab itu, Mentan memastikan, ke depan tidak ada lagi perbedaan data statistik. Semua sudah terpantau dengan akurat.

Syahrul mengatakan, sistem AWR sudah dirancang secara multiguna. Terutama dalam memantau kondisi pertanian di tingkat kecamatan dan desa. 

Petani tidak perlu membeli drone untuk melaporkan sawahnya kepada kementerian.

"Kita sudah punya alat ukurnya. Berbasis internet of think atau sudah menggunakan artificial intelligence. Namun, sejauh ini kami juga belum memutuskan apa-apa saja yang akan menjadi kebijakan secara utuh. Yang jelas saat ini kami masih mengawasi secara langsung di lapangan," ujarnya.

Syahrul berharap, kecanggihan AWR mampu meningkatkan semua produksi dengan kualitas panen di atas rata-rata. Terlebih, hasil tersebut bisa memenuhi ketersediaan pangan nasional dan pasar global.

"Tentu kita berharap ekspornya meningkat menjadi tiga kali lipat," katanya.