RAKYATKU.COM - Alek Sigley, mahasiswa Australia yang ditahan di Korea Utara dideportasi setelah ditahan selama 10 hari.
Pria berusia 29 tahun itu dituduh telah menyebarkan sentimen anti-pemerintah, dengan menyajikan informasi terkait Korea Utara pada media internasional termasuk NK News.
Kantor Berita Korea Utara (KCNA) melaporkan bahwa Sigley dibebaskan pada Kamis, dan dideportasi karena melakukan kegiatan mata-mata.
"Dia tertangkap basah melakukan hasutan anti-DPRK melalui internet, oleh lembaga terkait DPRK pada 25 Juni," demikian kata KCNA, dikutip CNN.
"Alek Sigley dideportasi dari Korea Utara setelah melakukan hasutan anti-DPRK."
"Investigasi mengungkapkan bahwa atas dorongan NK News dan media anti-DPRK lainnya ia menyerahkan beberapa kali data dan foto dan data yang ia kumpulkan, setelah menyisir Pyongyang dengan menggunakan kartu identitas seorang mahasiswa asing."
KCAN menambahkan bahwa mahasiswa S2 di Pyongyang itu dengan jujur telah ??mengakui tindakan mata-matanya, dan meminta pengampunan.
"Dia meminta maaf karena melanggar batas atas kedaulatan DPRK," kata KCNA.
Sigley dideportasi pada 4 Juli. Dia telah belajar di Universitas Kim Il Sung dan tinggal di ibu kota Korea Utara, Pyongyang.
Keluarganya mengatakan bahwa ia pertama kali mengunjungi Korea Utara pada 2012. Dia fasih berbahasa Korea dan Mandarin.
Selain menuntut ilmu di Korea Utara, Sigley juga menulis tentang pengalamannya di Korea Utara untuk situs berita NK News.
Dia juga mendirikan Tongil Tours, sebuah bisnis yang berspesialisasi dalam kunjungan pendidikan ke Korea Utara.
NK News sendiri telah menanggapi tuduhan sentimen anti-DPRK.
"Enam artikel yang diterbitkan Alek mewakili sepenuhnya karyanya bersama kami. Itu diterbitkan secara transparan di bawah namanya antara Januari hingga April 2019," kata Chad O'Carroll, CEO NK News Korea.
"Anti-negara adalah pernyataan yang salah yang kami tolak," tambahnya.
"Kolom Alek Sigley yang banyak dibaca menyajikan pandangan apolitis dan wawasan tentang kehidupan di Pyongyang yang kami terbitkan dalam upaya untuk menunjukkan sketsa kehidupan sehari-hari biasa di ibukota kepada pembaca kami," tambah O'Carroll.
