RAKYATKU.COM - Kotoran manusia telah menjadi ancaman terbesar bagi pendaki di puncak tertinggi dunia.
"Masalah dan keprihatinan terbesar sekarang di Everest adalah limbah manusia," kata Mantan kepala Asosiasi Pendaki Gunung Nepal, Ang Tshering kepada Associated Press.
Dia mengatakan bahwa Gunung Everest telah dijadikan sebagai toilet terbuka oleh para pendaki.
"Ratusan orang berada di sana selama berminggu-minggu yang pergi ke toilet terbuka."
Sulit untuk mengetahui secara pasti berapa banyak sampah yang tersebar di seluruh Everest karena itu hanya akan terlihat ketika salju mencair.
Tetapi di Camp 2, para pekerja yang membersihkan gunung mengatakan, ada sekitar 17.637 pon (8 ton) kotoran manusia tertinggal di sana selama musim pendakian tahun ini.
Tshering memperingatkan bahwa salju yang mencair di Camp 2 menciptakan bau yang memuakkan bagi pendaki, dan kotoran pada akhirnya akan mencemari sumber air di bawah dan membahayakan kesehatan.
"Selama ekspedisi kami ke Camp 2, delapan dari 10 Sherpa kami menderita sakit perut akibat air buruk di Camp 2," kata John All, seorang profesor ilmu lingkungan di Universitas Washington Barat yang mengunjungi Everest dalam ekspedisi penelitian.
Ang Dorjee, yang mengepalai Komite Pengendalian Pencemaran Everest, menuntut agar pemerintah Nepal melembagakan beberapa aturan.
“Masalahnya adalah tidak ada peraturan tentang cara membuang kotoran manusia. Beberapa pendaki menggunakan kantong biodegradable yang memiliki enzim, yang mengurai limbah manusia tetapi kebanyakan tidak," katanya.
Tshering dan pendaki gunung lainnya mengatakan pemerintah harus mengharuskan penggunaan kantong biodegradable untuk buang air.
