Rabu, 02 Januari 2019 02:30

Penyakit Ini Mengintai Akibat Tiup Terompet Tahun Baru

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi terompet
Ilustrasi terompet

Perayaan Tahun Baru tak lengkap rasanya bila dirayakan tanpa pesta kembang api atau barbeku bersama orang-orang terdekat. Ingin yang lebih meriah? Terompet pun siap di tangan, untuk ditiup saat jarum

RAKYATKU.COM - Perayaan Tahun Baru tak lengkap rasanya bila dirayakan tanpa pesta kembang api atau barbeku bersama orang-orang terdekat. Ingin yang lebih meriah? Terompet pun siap di tangan, untuk ditiup saat jarum jam sudah menunjuk ke angka 12. Meriah memang, tapi ada pendapat yang mengatakan bahwa sering tiup terompet saat tahun baru, diam-diam bisa memicu penyakit. Apa benar?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu ditekankan di sini, bahwa meniup terompet jelang tahun baru memiliki frekuensi yang jauh lebih sedikit dibandingkan pemusik yang memainkan terompet sebagai alat tiup. Namun, bukan berarti terompet tahun baru yang terbuat dari karton tebal tersebut bebas dari kuman penyakit.


Begini, terompet tahun baru umumnya buatan tangan. Nah, sebagai bentuk kontrol kualitas untuk memastikan terompet berbunyi nyaring, pembuat terompet tentu mengecek dengan cara meniupnya. Atau bisa juga saat terompet dijajakan, pedagangnya akan meniup untuk mengetesnya, sebelum diberikan ke pembeli. Tak ada yang bisa menjamin, kan, apakah pembuat terompet tersebut punya penyakit menular tertentu atau tidak?

Dilansir dari laman New York Times, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, meneliti kekhawatiran tersebut. Bahwasanya bakteri, jamur, dan ragi yang terdapat pada terompet dapat bertahan hidup selama beberapa hari. Risiko Anda untuk terkena penyakit menular pun meningkat.

Jenis penyakit yang mengintai dari meniup terompet
Adapun beberapa penyakit yang bisa ditularkan melalui air liur dari mulut ke terompet, antara lain:

Selesma dan influenza
Gejala selesma biasanya diawali dengan sakit tenggorokan, lalu diikuti pilek, hidung tersumbat, dan batuk. Demam biasanya muncul pada anak-anak, tapi jarang terjadi pada orang dewasa. Karena disebabkan oleh virus, biasanya tak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Namun perlu juga cek ke dokter bila berlangsung selama lebih dari dua hari.

Beda dengan selesma, gejala influenza atau flu lebih berat. Biasanya berupa sakit tenggorokan, demam tinggi, pegal-pegal di seluruh badan, batuk, dan pilek. Sebagian besar virus influenza akan hilang dalam 5-7 hari. Namun, ada juga beberapa virus lainnya yang berbahaya dan telah menimbulkan pandemic seperti virus H1N1 alias flu babi.

Pertusis
Menurut dr. Dina Kusumawardhani kepada KlikDokter, pertusis disebabkan oleh bakteri yang sangat menular, yaitu Bordetella pertusis. Penyakit yang bisa menyebabkan kematian pada 250.000 anak di dunia setiap tahunnya itu memiliki gejala yang mirip flu, antara lain batuk yang tak kunjung pulih, pilek, mata merah, dan demam. Batuk pada pertusis bahkan bisa sampai mengeluarkan suara teriakan saking kerasnya.

Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia. Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa menyebabkan radang selaput otak alias meningitis.

Jika Anda batuk berdahak lebih dari dua minggu, bahkan bisa disertai batuk berdarah, berat badan menurun, sering berkeringat pada malam hari, demam, nyeri dada, hingga pembesaran getah bening.

Tuberkulosis
Tuberkulosis atau TBC disebabkan oleh bakeri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya adalah lewat udara. Umumnya TBC menginfeksi paru-paru, tapi bisa juga mengenai tulang, usus, kelenjar getah bening, dan organ tubuh lainnya.

Gejalanya berupa batuk berdahak lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat pada malam hari, batuk darah, demam, nyeri dada, dan pembesaran kelenjar getah bening.

Stroke
Menurut Dr. Stefan Evers dari Universitas Munster, Jerman, kepada BBC, terlalu “bersemangat” dalam meniup terompet bisa menyebabkan pembuluh darah di otak pecah. Lebih menyeramkannya lagi, umumnya mereka yang mengalami hal tersebut adalah anak-anak atau remaja. Ini karena pembuluh darah mereka masih cenderung lemah dibandingkan dengan orang dewasa.

Sebetulnya masih banyak lagi penyakit menular yang mungkin bisa Anda dapat setelah meniup terompet saat perayaan Tahun Baru, seperti fifth disease atau parvovirus B19, hand, foot, and mouth disease, infeksi pneumokokal, hingga mononucleosis. Karenanya, ingatlah untuk tidak meniup terompet terlalu bersemangat untuk menghindari pecahnya pembuluh darah di otak.

Tak hanya itu, setelah membeli, pastikan Anda membersihkan tempat tiup terompet dengan alkohol untuk membunuh kuman atau bakteri yang mungkin menempel, demi meminimalkan risiko terkena penyakit menular. Selamat Tahun Baru 2019, dan tetaplah merayakan momen Tahun Baru dengan cara-cara yang sehat.